Stigma Masih Jadi Tantangan Terbesar Penyandang Disabilitas

  • 20 Jul 2026 16:46 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang– Bendahara Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Sintang, Redena Natalia, menilai tantangan terbesar yang dihadapi penyandang disabilitas bukan hanya kondisi fisik, melainkan stigma dan perlakuan yang mereka terima sejak kecil dari lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi di Studio Pro 1 RRI Sintang, Sabtu (18/7/2026), Redena menegaskan bahwa penyandang disabilitas sebaiknya dipandang sebagai individu yang memiliki keistimewaan, bukan kekurangan.

"Disabilitas adalah sesuatu yang istimewa sejak lahir. Kalau disebut kekurangan, menurut saya kurang etis karena bagaimanapun juga mereka adalah ciptaan Tuhan," ujarnya.

Menurut Redena, perjalanan hidup penyandang disabilitas dipenuhi berbagai tantangan. Selain harus membangun kepercayaan diri, mereka juga kerap menghadapi penolakan dan diskriminasi ketika mulai berinteraksi di lingkungan sosial.

Ia menjelaskan, banyak penyandang disabilitas tidak memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan akibat kurangnya dukungan dari keluarga. Bahkan, masih ada keluarga yang memilih membiarkan anggota keluarganya yang menyandang disabilitas tetap berada di rumah tanpa diberikan motivasi maupun kesempatan untuk berkembang.

"Padahal yang paling dibutuhkan adalah dukungan keluarga agar mereka percaya diri dan memiliki semangat untuk maju," katanya.

Setelah memasuki kehidupan bermasyarakat, tantangan lain kembali muncul. Redena mengatakan masih banyak anggapan bahwa berteman atau bekerja bersama penyandang disabilitas hanya akan menjadi beban. Stigma tersebut membuat sebagian penyandang disabilitas merasa malu, minder, hingga menarik diri dari lingkungan.

Ia berharap keluarga dan masyarakat mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas dengan memberikan kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.

"Harusnya mereka dipandang sebagai sesama manusia yang perlu didukung agar mampu berkembang dan mandiri," ujarnya.

Redena juga berharap adanya dukungan dari pemerintah, dunia usaha, maupun para dermawan di Kabupaten Sintang untuk membantu pemberdayaan penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan keterampilan dan pembentukan kelompok usaha dapat menjadi solusi agar penyandang disabilitas memiliki penghasilan sendiri.

Ia bercita-cita menghadirkan berbagai pelatihan, seperti menjahit, bengkel, hingga pembuatan kue dan makanan ringan. Dengan memiliki keterampilan dan usaha bersama, para penyandang disabilitas diharapkan lebih bersemangat serta mampu memenuhi kebutuhan hidup, termasuk membeli kursi roda, tongkat, dan alat bantu lainnya secara mandiri.

Sementara itu, Wakil Ketua PPDI Kabupaten Sintang, Muhammad Ajung, mengaku pernah mengalami perlakuan merendahkan dari keluarganya karena kondisi disabilitas yang dimilikinya.

"Saya pernah dianggap tidak mungkin bisa menghidupi keluarga karena menyandang disabilitas," katanya.

Namun, pengalaman menempuh pendidikan di Jakarta mengubah cara pandangnya. Ia mengaku semakin percaya diri, mampu mandiri, serta dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun membantu keluarga.

Ajung berharap kisahnya dapat menjadi motivasi bagi penyandang disabilitas lainnya agar terus berusaha meningkatkan kemampuan, tidak menyerah pada stigma, serta membuktikan bahwa mereka juga mampu berkarya dan berkontribusi di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....