Budaya “Jam Karet” Masih Menjadi Tantangan dalam Kehidupan Masyarakat

  • 22 Jun 2026 08:15 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Budaya “ngaret” atau yang lebih dikenal dengan istilah “jam karet” masih menjadi fenomena yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Istilah ini merujuk pada kebiasaan datang terlambat atau tidak menepati waktu yang telah disepakati. Meskipun sering dianggap sepele dan bahkan dimaklumi dalam beberapa situasi sosial, kebiasaan ini dapat memberikan dampak negatif bagi individu maupun lingkungan sekitar.

Istilah jam karet muncul dari anggapan bahwa waktu dapat “melar” atau berubah sesuai kondisi. Sejumlah ahli menilai kebiasaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan menunda pekerjaan, kurangnya kemampuan mengatur waktu, hingga sikap yang terlalu toleran terhadap keterlambatan. Dalam perspektif budaya, masyarakat agraris pada masa lalu juga cenderung memandang waktu sebagai sesuatu yang mengalir secara alami tanpa batas yang kaku.

Meski telah menjadi bagian dari kebiasaan sebagian masyarakat, budaya ngaret memiliki sejumlah konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Keterlambatan dapat menyebabkan pemborosan waktu dan menurunkan produktivitas, baik dalam lingkungan kerja, pendidikan, maupun kegiatan sosial. Waktu yang terbuang akibat menunggu seseorang datang terlambat dapat menghambat aktivitas yang telah direncanakan sebelumnya.

Selain berdampak pada produktivitas, kebiasaan tidak tepat waktu juga dapat memengaruhi tingkat kepercayaan dan profesionalisme seseorang. Di dunia kerja, individu yang sering terlambat berisiko kehilangan respek dari rekan maupun atasan. Dalam hubungan sosial, kebiasaan tersebut juga dapat menimbulkan kesan kurang menghargai waktu dan komitmen orang lain.

Untuk mengatasi budaya jam karet, diperlukan kesadaran dan komitmen dari masing-masing individu. Menanamkan pola pikir bahwa lebih baik menunggu daripada ditunggu dapat menjadi langkah awal yang efektif. Selain itu, penerapan konsekuensi atau sanksi sosial yang jelas terhadap keterlambatan juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih disiplin dan menghargai waktu, sehingga tercipta budaya yang lebih produktif dan profesional.

Sumber:

https://varian.suaramahasiswa.info/blog/2023/04/19/budaya-jam-karet-yang-melingkar-kekal-di-keterlambatan/

https://kumparan.com/komanggenta66/budaya-ngaret-mau-sampai-kapan-1zPkUu9hCKR

https://www.studocu.id/id/document/universitas-brawijaya/bahasa-indonesia/fenomena-budaya-ngaret-di-indonesia/42708645

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....