Ramadan Simbol Kebangkitan Umat Tanpa Kelas
- 23 Feb 2026 14:16 WIB
- Sibolga
Oleh : Ansyar Afandi Paranginangin
(Ketua DPRD Kota Sibolga)
Beberapa hari ini, Umat Islam di Dunia akan sibuk mempersiapkan diri melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadan. Ramadan hadir bukan hanya sebagai bulan suci spiritual semata, tetapi juga bagian momentum kesadaran kolektif dalam kehidupan sosial masyarakat. Dua dari lima Rukun Islam, yaitu puasa dan zakat menjadi kewajiban umat Islam pada bulan Ramadan seluruh dunia untuk melaksanakannya. Dua ibadah ini tidak hanya sebagai simbol kepatuhan Ilahiah, melainkan juga sebagai jalinan hubungan emosionalsesama manusia: hablum minannas, tanpa memandang perbedaan kelas.
Umat tanpa kelas, dalam perjuangan kelas yang disampaikan oleh Karl Max, memberi pemisah antara kaum Borjuis dan kaumProletar. Borjuis adalah mereka pemilik modal dan alat produksi, dan Proletar merupakan mereka yang bekerja untuk mendapatkan upah. Terlepas dari perbedaan pandangan ideologis juga ketimpangan struktural ekonomi, Ramadan hadir dengan ruang yang lebih dalam. Bukan sekedar perjuangan kelas, melainkan perjuangan nurani.
Ramadan hadir dengan membawa rasa dan cara berpikir yang berbeda. Di balik ritual puasa dan ibadah pada bulan Ramadan, tersimpan dimensi sosial yang sangat kuat. Tidak berpatokan hanya dengan kesalehan individual semata. Puasa memberi kesetaraan pengalaman, antara miskin dan kaya, pemodal dan pekerja, borjuis dan proletar. Puasa melatih empati, saat hampir seluruh umat Islam tanpa perbedaan kelas menahan lapar dan dahaga dengan rasa kesadaran yang sama.
Ali Syariati, kemudian menyimpulkan bahwa Islam adalah agama revolusioner dan ideologi pembebasan yang berpihak pada kaum yang tertindas (mustadafin) melawan penindas (mustakbirin). Merumuskan Sosialisme Islam yang adil akan sosial, sama akan hak, dan distribusi kekayaan (zakat, infak, sadaqah) untuk melawan imperialisme dan ketimpangan sosial yang sering terjadi.
Ramadan sebagai salah satu bulan yang penuh akan keberkahan hadir bukan hanya memupuk keberkahan untuk diri sendiri, melainkan juga keberkahan kepada keluarga, lingkungan sekitar, pun para tetangga dan umat Islam lainnya.Dimulai dengan wajibnya menahan lapar juga haus kurang lebih selama 13 jam, mengajarkan kita bagaimana keadaan orang miskin, fakir, dan golongan lainnya (proletar). Ikut memahami bagaimana kondisi mereka yang menahan lapar dan haus selama 12 bulan penuh tanpa berharap imbalan apapun.
Keadaan demikian, hendaknya menjadikan siapa saja yang berpuasa menjadi lebih mencintai dan mengerti akan orang-orang miskin, fakir, golongan orang-orang proletariat, sehingga lebih mudah untuk berempati dan saling memberi. Karenanya, Ramadan sering disebut sebagai Syahru Jud (bulan memberi) dan Syahru Muwassah (bulan bermurah tangan), bulan memberi kepada siapa saja yang membutuhkan.
Lebih daripada itu, bulan ini juga umat Islam diwajibkan membayar Zakat, memberikan sedikit rezeki hasil nikmat Allah SWT selama setahun kepada siapa saja yang termasuk golongan layak menerimanya. Oleh karena itu tidak salah kemudian bulan Ramadan dijadikan sebagai bulan untuk kita saling meningkatkan rasa solidaritas sosial, yang mampu memberi kepada yang kurang mampu, yang kaya memperhatikan yang miskin, yang mendapatkan nikmat rezeki berbagi dengan yang belum mendapatkan. Inilah yang dimaksud sebagai umat tanpa kelas. Tidak boleh ada yang berlebih-lebihan, kalaupun berlebih terdapat hak-hak umat yang kekurangan didalamnya.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW di Mekkah bukan hanya misi spiritual, tetapi juga gerakan sosial yang membebaskan. Budak diangkat martabatnya, kaum lemah dilindungi, dan struktur yang menindas ditantang oleh nilai tauhid. Spirit itu menegaskan bahwa Islam tidak membangun masyarakat berbasis kasta, melainkan berbasis takwa dan keadilan.
Konsep umat tanpa kelas dalam Ramadan bukan berarti menghapus perbedaan peran sosial, melainkan menghapus superioritas yang lahir dari kekayaan dan kekuasaan. Ramadan mengingatkan bahwa akumulasi tanpa tanggung jawab sosial hanya akan melahirkan ketimpangan yang berujung pada kerapuhan struktur ekonomi dan sosialpada tingkat grass root di masyarakat.
Lebih jauh, pada tingkat pemangku kebijakan, Ramadan adalah latihan kepemimpinan kolektif. Membentuk disiplin, integritas, dan pengendalian diri. Membuka ruang kesadaran bahwa kebangkitan umat bukan tentang retorika, melainkan tentang keberanian menghadirkan kebijakan yang berpihak pada yang lemah tanpa menumbuhkan kebencian pada yang kuat.
Dalam konteks kebangsaan, Ramadan seharusnya menjadi momentum konsolidasi moral. Umat bangkit bukan karena konflik horizontal, tetapi karena kesadaran vertikal: hubungan dengan Tuhan yang melahirkan tanggung jawab sosial. Kebangkitan ini bukan revolusi destruktif, melainkan transformasi etis yang membumi dalam kebijakan dan tindakan nyata.
Akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya setara. Yang membedakan hanyalah kualitas takwa dan kontribusi sosialnya. Jika nilai ini sungguh ditanamkan dalam diri, maka umat akan bangkit tanpa perlu membangun tembok perbedaan kelas. Karena keadilan tidak lahir dari pertentangan semata, tetapi dari kesadaran bersama bahwa umat dipanggil untuk saling menguatkan.
| Baca juga: Mengendalikan Hati di Bulan Ramadan |
Ramadan merupakan Syahru Tarbiyah, (bulan madrasah). Karenanya Ramadan adalah madrasah persatuan. Dari lapar yang sama, lahir solidaritas yang sama. Dari kesadaran yang sama, tumbuh kebangkitan umattanpa kelas, tanpa sekat, dan tanpa kehilangan arah moralnya.Juga sebagai madrasah sosial, Ramadhan mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa empati akan melahirkan jarak, dan kekayaan tanpa distribusi akan melahirkan ketidakstabilan. Kebangkitan umat tanpa kelas dalam bingkai Ramadan adalah kebangkitan moral, ekonomi, dan kebijakan. Menuju masyarakat yang lebih adil dan bermartabat.
Ramadan mengajarkan bahwa perubahan struktural tanpa transformasi moral hanya akan melahirkan kesenjangan dalam wajah yang berbeda. Sebaliknya, transformasi moral yang kolektif akan mendorong lahirnya sistem yang lebih adil dan berkelanjutan.
Kebangkitan umat tanpa kelas berarti menata ulang cara pandang,bahwa kekuasaan adalah amanah, kekayaan adalah titipan, dan kepemimpinan adalah pelayanan. Menolak dominasi tanpa harus membangun permusuhan. Melainkan mengoreksi ketimpangan tanpa menyalakan kebencian.
Pada keadaan demikianlah Ramadan menyempurnakan kehadirannya. Tidak terletak sekadar ritual tahunan, tetapi momentum pembaruan sosial. Ketika solidaritas menjadi budaya, bukan seremoni. Ketika distribusi menjadi komitmen, bukan formalitas. Dan ketika empati menjadi dasar kebijakanbukan retorika, maka kebangkitan itu tidak lagi abstrak namun nyata di depan mata.
Sebab keadilan sosial bukan hanya cita-cita ideologis, tetapi amanah kemanusiaan. Dan kebangkitan umat tanpa kelas bukanlah ilusi, melainkan proses panjang pembentukan kesadaran kolektif. Kesadaran yang membawa kebangkitan umat bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk saling menguatkan di antarariuh duaniawi. (Tulisan : Ansyar Afandi Paranginangin, Ketua DPRD Kota Sibolga)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....