Gangguan Makan Pica, Kebiasaan Mengonsumsi Benda Bukan Makanan

  • 25 Sep 2026 00:27 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga — Tidak semua orang memiliki kebiasaan makan yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Namun, keinginan mengonsumsi benda yang bukan makanan dapat menjadi tanda gangguan makan pica.

Dilansir dari Alodokter.com, pica merupakan gangguan makan yang ditandai keinginan mengonsumsi benda atau zat yang bukan makanan. Kondisi ini dapat dialami siapa saja, tetapi lebih banyak ditemukan pada anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan gangguan intelektual.

Benda yang dikonsumsi penderita pica dapat berupa es batu, rambut, tanah, pasir, kapur, sabun, hingga serpihan cat. Kebiasaan tersebut baru dapat dianggap sebagai pica jika berlangsung secara terus-menerus selama setidaknya satu bulan.

“Kebiasaan mengonsumsi benda yang bukan makanan perlu diperhatikan, apalagi jika dilakukan berulang. Sebaiknya jangan dianggap sebagai kebiasaan biasa karena bisa berdampak pada kesehatan,” ujar Anggita seorang pendengar Pro 2 RRI Sibolga pada program SPADA, Minggu, 20 September 2026.

Pada anak berusia di bawah dua tahun, memasukkan benda ke dalam mulut masih dapat menjadi bagian dari perkembangan. Karena itu, kondisi tersebut tidak langsung dianggap sebagai gangguan makan pica.

Penderita pica juga dapat mengalami berbagai masalah kesehatan akibat benda yang dikonsumsi. Keluhan yang muncul antara lain nyeri perut, mual, kembung, kelelahan, hingga kekurangan gizi.

Penyebab pica hingga kini belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya antara lain kekurangan zat besi atau zinc, kehamilan, gangguan perkembangan, dan kondisi kesehatan mental tertentu.

Diagnosis pica dilakukan oleh dokter melalui pemeriksaan kebiasaan makan dan dampak yang ditimbulkan. Pemeriksaan fisik serta tes darah juga dapat dilakukan untuk mengetahui kemungkinan kekurangan zat besi atau zinc.

Karena itu, kebiasaan mengonsumsi benda bukan makanan sebaiknya tidak diabaikan jika berlangsung berulang. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang sesuai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....