Anak Alami Trauma Berat, Keluarga Minta Keadilan
- 17 Nov 2025 16:52 WIB
- Sibolga
KBRN, Tapanuli Tengah : Kasus kekerasan terhadap anak kembali terjadi di wilayah Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah. Seorang anak menjadi korban perundungan (bullying) oleh sejumlah teman sebaya di lingkungan tempat tinggalnya. Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami cedera serius hingga patah tulang serta trauma mendalam.
Peristiwa ini disampaikan oleh Tarida Hasugian, pada Halo RRI Pro 1, Senin (17/11/2025) warga Badiri yang juga merupakan keluarga korban. Dengan suara penuh keprihatinan, Tarida mengungkapkan bahwa insiden tersebut bukan sekadar kenakalan anak-anak, melainkan tindakan kekerasan yang sudah mengarah pada tindak pidana.
“Anak kami dipukul dan ditendang berulang kali oleh beberapa anak di sekitar sini. Akibatnya tulangnya patah. Sekarang dia sangat trauma, selalu ketakutan, bahkan tidak berani keluar rumah.” katanya.
Menurut Tarida, setelah kejadian tersebut, kondisi psikologis sang anak memburuk. Ia sering menangis tanpa sebab, sulit tidur, dan menolak bermain di luar rumah. Setiap kali mendengar suara ramai dari luar, korban langsung menunjukkan reaksi ketakutan.
“Dulu dia ceria dan suka bermain. Sekarang, kalau diajak keluar sebentar saja dia gemetar. Kami sangat sedih melihat kondisinya.” Kasus ini membuat warga sekitar geram dan meminta aparat serta pemerintah setempat mengambil langkah tegas. Kekerasan yang menimpa anak di bawah umur dinilai tidak bisa dibiarkan, apalagi hingga menyebabkan cedera berat.
Tarida Hasugian berharap adanya proses hukum yang jelas untuk pelaku kekerasan, pendampingan psikologis bagi korban agar pulih dari trauma, pengawasan lebih ketat di lingkungan tempat tinggal, serta edukasi anti-bullying bagi anak-anak dan orang tua. “Kami ingin kejadian seperti ini tidak terulang. Anak-anak seharusnya bermain dengan aman, bukan menjadi korban kekerasan,” kata Tarida.
Kasus perundungan yang berujung kekerasan fisik ini kembali menjadi alarm bagi masyarakat Tapanuli Tengah. Bullying tidak hanya melukai fisik, tetapi juga merusak kondisi mental anak, dan dampaknya dapat bertahan hingga dewasa. Tarida menegaskan bahwa keluarga siap memperjuangkan keadilan bagi anak mereka. “Kami hanya ingin anak kami pulih, dan para pelaku bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.”
Keluarga korban masih menunggu tindak lanjut dari pihak berwenang. Warga berharap kasus ini menjadi perhatian serius dan menjadi pembelajaran agar lingkungan lebih ramah dan aman bagi anak-anak.