Sore Bercerita Bahas Gaya Hidup Anak Muda dan Masalah Mental
- 28 Agt 2026 05:45 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Program siaran berjaringan Korwil 16, Sore Bercerita, Rabu, 26 Agustus 2026 membahas gaya hidup anak muda serta masalah kesehatan mental. Program tersebut menghadirkan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Sibolga, Sri Wahyuni dan Sekretaris Pokja 4 PKK Kota Sibolga, dr. Dinda Fitri Jambak sebagai narasumber.
Sri Wahyuni mengatakan penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat memengaruhi perilaku dan pergaulan remaja. “Media sosial harus digunakan secara bijak, karena pengaruh lingkungan digital dapat membentuk perilaku anak,” ujarnya.
Menurutnya, remaja juga menghadapi berbagai persoalan sosial, seperti pergaulan berisiko, tawuran, rokok, vape, narkoba, dan pernikahan anak. Persoalan tersebut membutuhkan perhatian bersama dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Pemerintah Kota Sibolga juga mendorong kegiatan positif bagi remaja sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan fisik dan mental. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi remaja untuk menyalurkan energi secara positif.
Sri Wahyuni menilai dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam membantu remaja menghadapi berbagai tantangan. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka agar anak memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan.
Pembahasan kemudian berlanjut pada dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan anak muda. Dr. Dinda Fitri Jambak menjelaskan penggunaan media sosial berlebihan dapat memicu kecemasan, stres, dan kebiasaan membandingkan diri.
Rasa takut tertinggal atau FOMO juga dapat muncul ketika anak muda terlalu mengikuti aktivitas orang lain. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri dan keseimbangan kesehatan mental.
Penggunaan gawai hingga larut malam turut berdampak terhadap kualitas tidur dan konsentrasi anak muda. Menurut dr. Dinda, kebiasaan tersebut juga dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko masalah kesehatan.
Menanggapi pertanyaan Pro 2 Medan tentang anak muda yang mencari tahu kondisi diri melalui AI, dr. Dinda mengingatkan risiko salah memahami informasi. “Jangan langsung percaya dan mendiagnosis diri sendiri dari informasi AI, karena diagnosis tetap harus dilakukan oleh tenaga kesehatan,” katanya.
Ia mengimbau anak muda tidak menjadikan informasi dari AI atau media sosial sebagai dasar diagnosis kesehatan. Keluhan kesehatan sebaiknya diperiksa langsung oleh dokter atau tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Dr. Dinda juga mengingatkan pentingnya penggunaan teknologi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi selama pengguna tetap memeriksa kebenaran informasi tersebut.
Keseimbangan antara kehidupan digital dan aktivitas sehari-hari menjadi penting untuk menjaga kesehatan generasi muda. Dukungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah diperlukan agar remaja mampu menghadapi berbagai tantangan secara positif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....