Toko Refill, Tren Gaya Hidup Minim Sampah

  • 03 Jun 2026 10:58 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Pentingnya menjaga kelestarian bumi melahirkan tren baru dalam berbelanja di toko refill (isi ulang). Tidak sekadar menjual produk, konsep ini menawarkan solusi konkret bagi masyarakat yang ingin menjalani gaya hidup minim sampah (zero waste), sekaligus menjaga kesehatan tubuh dan dompet tetap terjaga.

Mengapa tren ini begitu cepat diminati? Jawabannya sederhana karena tren ini memiliki tiga keuntungan dalam satu langkah.

Toko refill memiliki tiga manfaat nyata dalam kehidupan kita karena lebih hemat (Ekonomis). Di toko refill, konsumen tidak perlu membayar biaya kemasan plastik yang biasanya mencakup 15% hingga 20% dari harga produk konvensional. Konsumen cukup membawa wadah sendiri dari rumah dan hanya membayar apa yang mereka timbang atau ukur.

Mayoritas produk yang dijual di toko refill mulai dari sabun, sampo, pembersih lantai, hingga bahan pangan terbuat dari bahan-bahan organik, alami, bebas paraben, dan bebas bahan kimia berbahaya. Ini jauh lebih aman untuk kulit sensitif dan kesehatan jangka panjang.

Dengan memotong jalur distribusi kemasan sekali pakai, ribuan ton sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau lautan dapat dikurangi secara signifikan sehingga lebih ramah lingkungan.

Gerakan kembali ke cara tradisional ini justru dimotori generasi muda (Gen Z dan Milenial) yang kian cemas terhadap krisis iklim. Bagi mereka, berbelanja di toko refill langkah konkret yang bisa diambil sehari-hari.

"Selain ramah lingkungan, produknya rata-rata menggunakan bahan alami yang lebih bersahabat untuk kulit sensitif. Sebagai anak muda, kami tidak mau cuma bisa komplain di media sosial soal sampah, kami ingin jadi bagian dari solusi," tegas Sukriadi Tanjung, Konten Kreator melalui pesan whatsApp-nya dalam acara Santai Siang. Selasa, 2 Juni 2026.

Kehadiran generasi muda yang peduli lingkungan ini membawa angin segar bagi bumi. Toko refill kini bukan lagi sekadar tempat belanja, melainkan ruang kolaborasi dan edukasi bagi komunitas lokal untuk saling bertukar ide tentang gaya hidup zero-waste.

"Gaya hidup ramah lingkungan itu tidak harus mahal atau ribet. Mulai saja dulu dari menyayangi diri sendiri dengan produk yang sehat, lalu bonusnya kita juga menyayangi bumi," lanjut Sukri dengan optimistis.

Meski tantangan berupa ketersediaan toko refill yang belum merata di setiap daerah, namun konsistensi anak muda dalam memilih opsi ini membuktikan gaya hidup berkelanjutan bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sebuah kebutuhan masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....