Literasi Keuangan, Fondasi Menuju Kesejahteraan Masyarakat
- 18 Des 2025 17:28 WIB
- Sibolga
KBRN, Sibolga: Di tengah arus konsumsi dan kemudahan akses keuangan saat ini, literasi keuangan menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Kemampuan mengelola keuangan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan agar individu mampu bertahan dan sejahtera dalam jangka panjang.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2017 mendefinisikan literasi keuangan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap serta perilaku seseorang dalam mengambil keputusan dan mengelola keuangan guna mencapai kesejahteraan finansial. Definisi ini menegaskan bahwa literasi keuangan tidak hanya soal tahu, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Literasi Keuangan Penting?
Literasi keuangan memiliki keterkaitan erat dengan tiga aspek utama. Pertama adalah financial literacy itu sendiri, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku keuangan. Tanpa pemahaman yang memadai, seseorang rentan mengambil keputusan finansial yang keliru.
Kedua, financial inclusion atau inklusi keuangan. Literasi keuangan mendorong masyarakat untuk memiliki akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan, memahami ketersediaannya, menggunakan produk tersebut secara bijak, serta menilai kualitas layanan yang diterima.
Ketiga, tujuan akhir dari literasi dan inklusi keuangan adalah terwujudnya masyarakat sejahtera (financial well-being). Hal ini ditandai dengan kemampuan mengelola keuangan secara baik, mengembangkan aset, serta memiliki ketahanan keuangan untuk menghadapi risiko dan kondisi darurat.
Indikator Literasi Keuangan
Tingkat literasi keuangan seseorang dapat dilihat dari sejumlah indikator. Di antaranya kemampuan membuat skala prioritas kebutuhan, mengelola dan menghemat uang, mengawasi penggunaan kartu kredit, serta kebiasaan menabung. Selain itu, peningkatan pengetahuan tentang investasi dan kesiapan menghadapi masa pensiun juga menjadi bagian penting dari literasi keuangan yang sehat.
Indikator-indikator ini menunjukkan bahwa literasi keuangan bukan konsep abstrak, melainkan tercermin langsung dalam kebiasaan dan keputusan finansial sehari-hari.
Kesalahan Finansial Milenial yang Mengancam Masa Tua
Rendahnya literasi keuangan kerap terlihat dari sejumlah kesalahan yang banyak dilakukan generasi milenial. Salah satunya adalah kebiasaan menunda menabung dengan alasan masih muda dan merasa belum perlu memikirkan masa depan.
Kesalahan lain adalah menempatkan gaya hidup sebagai prioritas utama. Fenomena “YOLO” (You Only Live Once) dan “FOMO” (Fear of Missing Out) mendorong perilaku konsumtif berlebihan tanpa perhitungan jangka panjang. Akibatnya, pendapatan habis untuk memenuhi keinginan sesaat.
Selain itu, kurangnya perhatian terhadap penggunaan kredit juga menjadi persoalan. Godaan diskon sering kali membuat pengeluaran melampaui batas kemampuan bayar. Ditambah lagi, sikap gegabah dalam mengambil keputusan finansial dan keengganan untuk berinvestasi semakin memperbesar risiko kesulitan ekonomi di masa tua.
Padahal, investasi sejak dini dapat menjadi penopang penting bagi kestabilan finansial di kemudian hari.
Uang dan Tujuan Hidup
Pemikir sosial John Ruskin pernah mengatakan, “Bukan seberapa banyak orang menghasilkan uang, melainkan untuk tujuan apa uang itu digunakan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa esensi keuangan bukan terletak pada jumlah, tetapi pada kebijaksanaan dalam memanfaatkannya.
Literasi keuangan membantu masyarakat memahami tujuan tersebut, sehingga uang tidak hanya menjadi alat pemuas keinginan, tetapi sarana untuk membangun masa depan yang lebih aman dan bermartabat.
Disusun oleh: Immanuel Anggiat Martua Aritonang, JF PTPN Penyelia KPPN Sibolga