Bantu Lingkungan dan Tingkatkan Ekonomi Keluarga
- 21 Nov 2025 12:44 WIB
- Sibolga
KBRN, Sibolga : Kota Madiun, Jawa Timur tidak hanya dikenal sebagai kota yang kaya budaya dan indah secara alamiah, tetapi juga sebagai salah satu daerah dengan kesadaran tinggi dalam pengelolaan limbah. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah kegiatan merosok barang bekas, yakni aktivitas mencari, mengumpulkan, dan menjual kembali barang-barang tak terpakai seperti plastik, kertas, dan logam untuk didaur ulang.
Tradisi merosok telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Pada awal kemunculannya, kegiatan ini dilakukan masyarakat untuk menambah penghasilan. Namun seiring berkembangnya waktu, merosok menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah di Madiun. Aktivitas ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi banyak keluarga.
Tukini (Ibu Rumah Tangga) asal Manisrejo, pada Mozaik Indonesia Berjaringan Pro 1, Kamis (20/11/2025) mengatakan kegiatan merosok cukup membantu perekonomian keluarganya. Ia rutin mengumpulkan plastik bekas untuk dijual kepada tukang rosok yang setiap hari melintas di depan rumahnya. “Kan daripada dibuang, wong tukang rosok keliling selalu lewat depan rumah setiap hari. Kita tinggal ngumpulin saja plastik-plastik bekas,” kata Tukini.
Tukini menyebutkan bahwa 1 kilogram plastik dihargai sekitar Rp1.000, sedangkan barang lain seperti kertas dan kardus memiliki nilai jual lebih tinggi, sehingga semakin menambah pemasukan harian. Di sisi lain, para pelaku rosok yang biasa disebut pemulung menjalankan aktivitasnya dengan berkeliling permukiman, pasar, hingga area publik menggunakan gerobak, sepeda motor, hingga mobil bak terbuka yang telah dimodifikasi. Mereka memilah sampah berdasarkan jenis dan nilai ekonominya, seperti logam, plastik, kaca, dan kertas, sebelum menjual kembali ke pengepul atau pabrik daur ulang.
Keberlanjutan kegiatan merosok di Madiun juga ditopang oleh kreativitas dan ketekunan para pelakunya. Banyak di antara mereka yang mampu membaca potensi dari barang-barang yang dianggap tidak berguna. Melalui proses daur ulang, barang-barang tersebut kembali memiliki nilai ekonomis, baik dijual ke pabrik maupun diolah menjadi produk baru.
Kegiatan merosok barang bekas menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Madiun dalam menjaga lingkungan berjalan seiring dengan upaya meningkatkan ekonomi keluarga. Dengan semakin tingginya kebutuhan akan pengelolaan sampah yang berkelanjutan, tradisi merosok diperkirakan akan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan warga Madiun di masa mendatang.