Keluar Zona Nyaman Demi Kesehatan Mental
- 15 Jul 2026 15:22 WIB
- Sibolga
Poin Utama
- zona nyaman demi menjaga kesehatan mental dan fisik
- Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan pekerjaan yang layak mendukung kesehatan mental seseorang
- Keputusan keluar dari zona nyaman sebaiknya didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti tren
RRI.CO.ID, Sibolga - Meninggalkan zona nyaman demi menjaga kesehatan mental dan fisik banyak dipilih generasi muda. Hal tersebut memunculkan perdebatan mengenai rasa syukur dan tanggung jawab dalam dunia kerja.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan pekerjaan yang layak mendukung kesehatan mental seseorang. Sebaliknya, beban kerja berlebihan, minimnya kendali, dan ketidakpastian pekerjaan dapat meningkatkan risiko gangguan mental.
WHO juga menyebut depresi dan kecemasan menyebabkan sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun. Kondisi tersebut mengakibatkan kerugian produktivitas ekonomi global hingga satu triliun dolar Amerika Serikat setiap tahun.
Beberapa Psikolog menilai menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tanggung jawab pekerjaan. Upaya tersebut justru membantu seseorang tetap produktif, mampu mengambil keputusan, dan menjaga kesehatan fisik dalam jangka panjang.
Di sisi lain, sebagian masyarakat masih menganggap berpindah pekerjaan sebagai bentuk ketidaksyukuran. Padahal, rasa syukur dapat berjalan beriringan dengan keinginan memperoleh lingkungan kerja yang lebih sehat.
Seorang pendengar, Arina, turut berkomentar pada topik di acara Jaga Malam Pro 2 RRI Sibolga, Selasa, 14 Juli 2026 tersebut. Arina mengaku pernah bertahan bekerja meski mengalami kelelahan emosional.
| Baca juga: Belajar Lepas dari Kebiasaan People Please |
"Saya baru sadar kesehatan mental juga harus dijaga, bukan hanya mengejar penghasilan," ujarnya. Ia berharap semakin banyak pekerja berani mencari solusi terbaik tanpa merasa bersalah ketika ingin memperbaiki kualitas hidup.
Arina juga mengatakan keputusan mencari lingkungan kerja yang lebih sehat bukan berarti tidak menghargai pekerjaan sebelumnya. Menurutnya, seseorang tetap dapat bersyukur sambil berupaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan.
Keputusan keluar dari zona nyaman sebaiknya didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti tren. Dengan demikian, kesehatan mental, tanggung jawab, dan pengembangan karier dapat berjalan secara seimbang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....