Pemkab Madina Kembangkan Pilot Project Pisang Kepok Bebas Layu Fusarium
- 10 Jul 2026 12:16 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Mandailing Natal – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) menyiapkan lahan seluas empat hektare di Desa Hutatonga, Kecamatan Panyabungan Barat, sebagai lokasi pilot project pengembangan pisang kepok yang bebas dari penyakit layu fusarium. Program tersebut menjadi langkah awal untuk mengembalikan kejayaan pisang kepok sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
Bupati Mandailing Natal H. Saipullah Nasution bersama tim akademisi dari Universitas Medan Area (UMA), yakni Prof. Zulkarnain Lubis, Prof. Suswati, dan Assoc. Prof. Syahbudin Hasibuan, meninjau langsung proses pembersihan lahan, Kamis, 9 Juli 2026. Turut mendampingi, Kepala Dinas Pertanian Taufik Zulhandra Ritonga beserta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah.
Saipullah mengatakan, kawasan pengembangan pisang kepok tersebut tidak hanya difokuskan sebagai sentra pertanian, tetapi juga akan dikembangkan menjadi kawasan edukasi dan agrowisata. Menurutnya, konsep tersebut akan dipadukan dengan fasilitas pendukung seperti kolam, saung, dan sentra kuliner berbasis pisang untuk menarik kunjungan masyarakat.
Selain meningkatkan produksi buah, Pemkab Madina juga menargetkan pengembangan industri hilir berbasis pisang kepok asli Mandailing Natal. Bupati menjelaskan, komoditas tersebut akan didorong untuk memperoleh pengakuan Indikasi Geografis, sekaligus diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti tepung, kue, dan aneka makanan yang dapat dikembangkan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Assoc. Prof. Syahbudin Hasibuan menjelaskan, pengembangan kebun pisang mengusung konsep zero waste, sehingga seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Sementara itu, Prof. Zulkarnain Lubis mengatakan bibit pisang kepok bebas layu fusarium hasil penelitian nantinya akan dibagikan kepada masyarakat, disertai pendampingan mengenai teknik budidaya agar tanaman tetap terbebas dari penyakit.
Prof. Suswati menambahkan, Desa Hutatonga dipilih sebagai lokasi pilot project karena memiliki kondisi tanah yang lebih sehat dan risiko penyebaran penyakit lebih rendah dibandingkan lokasi lain. Bibit yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan tanpa bunga jantan untuk meminimalkan penularan penyakit darah bakteri melalui serangga. Melalui program ini, Pemkab Madina berharap kejayaan pisang kepok khas Mandailing Natal yang sempat hilang selama lebih dari dua dekade dapat kembali bangkit sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....