Waspadai Bahaya Mendiagnosis Diri Sendiri

  • 10 Jul 2026 05:53 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Media sosial saat ini memudahkan masyarakat memperoleh informasi tentang kesehatan jiwa. Namun, informasi singkat sering mendorong kebiasaan melakukan diagnosis sendiri atau mandiri.

Diagnosis mandiri adalah tindakan menyimpulkan kondisi diri tanpa pemeriksaan tenaga ahli. Kebiasaan ini berisiko menimbulkan kesalahan memahami keadaan yang sebenarnya.

Banyak video pendek menyajikan ciri gangguan kejiwaan secara sederhana. Padahal, satu gejala dapat disebabkan tekanan hidup, kelelahan, atau gangguan kesehatan lainnya.

Tekanan hidup merupakan respons wajar terhadap berbagai tantangan sehari-hari. Sementara itu, gangguan kejiwaan umumnya berlangsung lebih lama dan menghambat aktivitas harian.

Tenaga ahli menjelaskan penetapan diagnosis memerlukan wawancara, pengamatan, serta penelusuran riwayat seseorang. Proses tersebut tidak dapat digantikan oleh tayangan singkat di media sosial.

Masyarakat dianjurkan memanfaatkan konten kesehatan jiwa sebagai sarana menambah pengetahuan. Namun, penetapan diagnosis sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang.

Seorang pendengar pada acara Jaga Malam Pro 2 RRI Sibolga, Kamis, 9 Juli 2026, Annisa, mengatakan, "Saya pernah mengira mengalami gangguan kejiwaan setelah menonton video singkat." Ia menyadari pemeriksaan langsung jauh lebih penting daripada menyimpulkan sendiri.

Annisa juga berpendapat media sosial sebaiknya menjadi sumber edukasi, bukan dasar penetapan diagnosis. Menurutnya, pengalaman setiap orang berbeda sehingga tidak dapat disamakan.

Memahami kesehatan jiwa secara benar membantu masyarakat menghindari pelabelan terhadap diri sendiri. Langkah tersebut juga mendukung penanganan yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....