Belajar Lepas dari Kebiasaan People Please

  • 20 Jun 2026 13:35 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Kebiasaan people pleaser masih sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Istilah ini menggambarkan seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Orang dengan kebiasaan tersebut biasanya sulit menolak permintaan dari lingkungan sekitar. Mereka khawatir dianggap egois atau mengecewakan orang lain.

Pada awalnya, perilaku itu terlihat sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Namun jika berlebihan, kondisi tersebut dapat mengganggu kesejahteraan diri sendiri.

Seseorang yang terlalu sering mengutamakan orang lain berisiko mengalami kelelahan emosional. Mereka juga dapat kehilangan waktu untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

Para ahli menilai kebiasaan people pleaser dapat terbentuk dari pengalaman masa lalu. Lingkungan keluarga maupun pergaulan turut memengaruhi pola perilaku tersebut.

Karena itu, penting bagi seseorang untuk belajar mengenali batas kemampuannya. Menolak permintaan secara sopan bukan berarti menjadi pribadi yang tidak peduli.

Belajar mengatakan tidak dapat membantu menjaga kesehatan mental dan emosional. Langkah tersebut juga membuat seseorang lebih menghargai kebutuhan dirinya sendiri.

Selain itu, setiap orang perlu memahami bahwa tidak semua orang harus menyukainya. Perbedaan pendapat dan penilaian merupakan bagian dari kehidupan sosial.

Pada acara Jaga Malam Pro 2 RRI Sibolga, Jumat, 19 Juni 2026, Ronny, pendengar Pro 2, berkomentar mengaku pernah menjadi seorang people pleaser selama bertahun-tahun. Ia mengatakan, "Dulu saya hampir tidak pernah menolak permintaan orang lain karena takut dianggap tidak baik, padahal sering merasa lelah dan tertekan."

Ronny menuturkan bahwa ia mulai belajar menetapkan batasan dalam pertemanan dan pekerjaan. Menurutnya, setelah berani mengatakan tidak pada hal-hal yang memberatkannya, ia merasa lebih tenang, lebih percaya diri, dan mampu menghargai kebutuhan dirinya sendiri tanpa kehilangan hubungan baik dengan orang lain.

Melalui pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan mampu melepaskan kebiasaan people pleaser secara bertahap. Dengan demikian, keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan diri sendiri dapat terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....