BPBD Tapteng: Rencana Keluarga Hadapi Enam Ancaman Bencana

  • 16 Sep 2026 05:49 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah (BPBD Tapteng) mengidentifikasi sebanyak enam jenis ancaman bencana berpotensi terjadi di wilayah Tapteng. Keenam jenis ancaman bencana ini perlu diwaspadai masyarakat, setidaknya mengenali mitigasi pencegahan untuk meminimalisir korban jiwa, kerugian serta dampak yang terjadi saat bencana.

Sekretaris BPBD Tapteng, Tanti Harahap menyebut enam jenis ancaman bencana di Tapteng berdasarkan hasil kajian tim ahli BPBD yaitu peristiwa banjir, tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi, tsunami, dan abrasi. Pada masa cuaca ekstrim saat ini di Tapteng kata Tanti, masyarakat harus memiliki rencana keluarga dalam konsep mitigasi bencana.

Menurut Tanti, peristiwa bencana yang terjadi tahun 2025 lalu harus menjadi pembelajaran bagi masyarakat Tapteng untuk segera memahami rencana keluarga dalam mitigasi bencana. Selain itu, Tanti juga mengingatkan psikologis masyarakat juga harus dikuatkan untuk mengantisipasi kepanikan saat berhadapan dengan bencana.

“Bencana 25 November 2025 lalu hingga ke masa tanggap darurat bencana di Tapteng itu korban jiwa tercatat 131 jiwa dan hilang 33 jiwa. Jadi, kalau kita sudah antisipasi dan waspada sejak dini lewat program mitigasi mungkin tidak akan mencapai 131 jiwa meninggal, meskipun kondisi itu adalah kuasa Tuhan, namun kita juga harus berusaha,” kata Tanti, saat dialog Kentongan Pro1 RRI Sibolga pada Selasa, 15 September 2026.

“Salah satu langkah mitigasi bencana yang perlu dilakukan masyarakat adalah memiliki rencana keluarga di antaranya mempersiapkan tas siaga bencana dan mengenali potensi bencana di sekitar tempat tinggal atau lokasi pekerjaan. Kemudian, mengenali dan menentukan lokasi pengungsian, serta memahami proses evakuasi secara mandiri,” lanjutnya.

Mengingat kondisi cuaca ekstrim masih terjadi, ditambah lagi upaya perbaikan infrastruktur pascabencana di Tapteng masih berjalan, Tanti sangat berharap adanya partisipasi masyarakat dalam memahami konsep mitigasi, setidaknya di lingkungan keluarga. Kemudian saat terjadi bencana ucap Tanti, masyarakat juga harus tangguh dan mampu menerapkan paradigma dalam penanggulangan bencana yaitu masyarakat harus menyelamatkan, bukan diselamatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....