Kesehatan Mental Penyandang Disabilitas Butuh Perhatian Bersama

  • 22 Feb 2026 21:03 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga- Isu kesehatan mental penyandang disabilitas dinilai membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat secara bersama. Hal itu disampaikan Rudianto dalam Program Ruang Disabilitas di Pro 1 RRI Sibolga yang mengangkat tema edukasi publik inklusif Sabtu,21 Februari 2026.

Rudianto menegaskan layanan psikologis harus mudah diakses melalui program berbasis komunitas yang inklusif bagi seluruh kelompok rentan sosial. “Layanan psikologis harus hadir lebih dekat dan bisa dijangkau oleh semua penyandang disabilitas tanpa terkecuali,” ujarnya.

Menurutnya, fasilitas kesehatan publik perlu menyediakan terapi psikologis yang ramah disabilitas secara merata dan adil. “Akses terapi harus setara, tidak boleh ada diskriminasi dalam pelayanan kesehatan mental,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam mencegah stigma dan isolasi sosial, khususnya di wilayah pesisir barat. “Peran keluarga sangat penting untuk mencegah stigma dan membantu proses pemulihan secara emosional,” ungkap Rudi.

Rudianto berharap kolaborasi lintas sektor dapat memperkuat kebijakan kesehatan mental di daerah melalui pendanaan yang stabil dan pengawasan berbasis data. “Tanpa dukungan anggaran yang konsisten dan data yang akurat, program tidak akan berjalan optimal,” tegasnya.

Pendekatan berbasis komunitas dinilai efektif menjangkau kelompok rentan dengan kebutuhan khusus melalui relawan terlatih dan pendampingan psikososial rutin. “Relawan yang terlatih dapat menjadi jembatan antara layanan kesehatan dan masyarakat,” jelasnya.

Materi siaran juga mengajak masyarakat memahami hak penyandang disabilitas atas kesehatan mental sebagai bagian dari pembangunan manusia yang adil dan berkelanjutan. “Kesehatan mental adalah hak setiap warga negara dan bagian dari pembangunan yang berkeadilan,” katanya.

Ia mengajak masyarakat menghapus diskriminasi dengan menggunakan bahasa yang ramah dan empatik dalam interaksi sehari-hari di ruang publik. “Bahasa yang empatik akan menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif,” tuturnya.

Kesadaran kolektif diyakini dapat mempercepat pemulihan dan mendorong kemandirian penyandang disabilitas melalui dukungan emosional, pendidikan, dan kesempatan kerja. “Kita harus membuka ruang pendidikan dan pekerjaan yang inklusif agar mereka mandiri,” ujar Rudi.

Rudianto menegaskan program berkelanjutan diperlukan agar pesan kesehatan mental tidak berhenti pada wacana semata. “Menjaga kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama demi masa depan penyandang disabilitas yang lebih baik,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....