Karhutla di Kutai Barat Capai 6.000 Hektare, Warga Diminta Waspada

  • 15 Sep 2026 19:24 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, mencapai sekitar 6.000 hektare sepanjang Juli hingga pertengahan September 2026. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap kebakaran dan dampak asap perlu terus ditingkatkan.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Barat, Christian Gamas, mengatakan berdasarkan catatan operasi pemadaman, terdapat 133 kejadian kebakaran selama periode tersebut.

"Sepanjang Juli hingga pertengahan September 2026, berdasarkan catatan operasi pemadaman yang kami lakukan, telah terjadi 133 titik kejadian kebakaran dengan total luasan area terdampak sekitar 6.000 hektare," kata Christian, Selasa 15 September 2026.

Menurutnya, sebagian besar wilayah yang terbakar merupakan hutan dan lahan. Luasan tersebut dinilai cukup besar dan menunjukkan seriusnya ancaman karhutla di Kutai Barat.

Christian menyebut salah satu wilayah dengan area terdampak cukup luas berada di Kecamatan Damai. Kondisi cuaca yang sangat kering turut meningkatkan risiko kebakaran karena vegetasi dan bahan-bahan yang mudah terbakar menjadi lebih cepat kering.

"Vegetasi di kawasan hutan, baik gambut maupun lahan mineral, juga menjadi lebih kering sehingga mudah terbakar. Kondisi kekeringan akibat El Nino membuat vegetasi lebih kering dari biasanya," ujarnya.

Christian menegaskan penanganan karhutla tidak dapat dilakukan pemerintah sendirian. BPBD bekerja sama dengan KPHP, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan kampung, Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha, relawan, serta masyarakat.

"Yang dapat kami pastikan adalah kondisi kekeringan masih menjadi ancaman. Karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan," ucap Christian.

Kepala Seksi Perlindungan, KSDAE dan Pemberdayaan Masyarakat UPTD KPHP Damai Dinas Kehutanan Kalimantan Timur, Rudy Eravani, menambahkan kawasan kerja KPHP Damai memiliki sejumlah wilayah yang telah dipetakan sebagai lokasi rawan karhutla.

Menurut Rudy, kawasan yang didominasi semak belukar dan pakis mudah terbakar, terlebih ketika kondisi lingkungan sangat kering. Kebakaran juga berpotensi kembali muncul di lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan akibat bara yang masih tersisa.

"Setelah api dipadamkan, api bisa kembali menyala karena masih terdapat bara atau bahan yang mudah terbakar. Kondisi itu semakin mudah terjadi ketika ada hembusan angin," ujarnya.

Rudy mengatakan patroli di kawasan rawan karhutla tetap dilakukan untuk mengetahui kondisi lapangan, termasuk ketersediaan sumber air dan akses menuju lokasi yang berpotensi terbakar.

Ia juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari penggunaan api secara sembarangan. Puntung rokok yang tidak benar-benar padam maupun aktivitas pembakaran terbuka dapat menjadi pemicu kebakaran ketika lingkungan dalam kondisi sangat kering.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan kebakaran atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....