Warga Usul Pemetaan Sumber Air Hadapi Ancaman Kebakaran

  • 28 Agt 2026 15:34 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) didorong menyiapkan pemetaan sumber air yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi kebakaran permukiman maupun kebakaran lahan.

Usulan tersebut disampaikan warga Barong Tongkok, Hanyeq, sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama kondisi kemarau. Menurutnya, keberadaan sumber air perlu diketahui sejak awal agar tidak menjadi kendala ketika proses pemadaman dibutuhkan.

“Harapan saya ke depan ini, daripada penanggulangan bencana daerah ini, melakukan pemetaan, nah, pemetaan jika terjadi kebakaran pemukiman maupun kebakaran lahan, itu kalau bisa pemetaan untuk tempat penampungan air,” kata Hanyeq, Jumat 28 Agustus 2026.

Ia menilai pemetaan perlu dilengkapi dengan informasi mengenai lokasi sumber air yang mudah dijangkau. Dengan begitu, masyarakat maupun petugas dapat mengetahui titik pengambilan air terdekat ketika terjadi kebakaran.

Hanyeq mencontohkan kawasan Long Iram yang memiliki sejumlah sumber air, termasuk Sungai Barong. Menurutnya, sumber air tersebut perlu dipetakan agar dapat diketahui akses yang paling memungkinkan ketika dibutuhkan.

“Jadi ada tempat penampungan air, sehingga tidak jauh itu,” ujarnya.

Selain pemetaan, ia berharap pemerintah memperhatikan akses jalan menuju sumber air. Infrastruktur jalan yang memadai dinilai akan membantu mempercepat mobilisasi ketika terjadi kondisi darurat.

Ia juga menyoroti pentingnya akses bagi kendaraan pemadam. Jalan yang sulit dilalui berpotensi menghambat pergerakan armada ketika harus menuju lokasi kebakaran.

“Kita minta juga akses-akses jalan-jalan itu, kalau bisa, kalau terjadi ada apa-apa itu, supaya tidak mengganggu armada-armada dari pemadam,” ucapnya.

Selain kesiapan sumber air dan akses jalan, Hanyeq juga mengusulkan pelaksanaan simulasi bencana. Simulasi dinilai dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai apa yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran maupun bencana lainnya.

“Jadi kalau bisa simulasi. Simulasi seandainya terjadi bencana kebakaran, pemukiman, bagaimana jalur evakuasinya, atau kalau terjadi banjir seperti apa, evakuasinya,” katanya.

Menurut Hanyeq, simulasi bukan berarti masyarakat mengharapkan terjadinya bencana. Sebaliknya, kesiapsiagaan diperlukan agar masyarakat dan pemerintah memiliki gambaran tindakan yang harus dilakukan ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.

“Kita tidak ingin namanya musibah, tetapi minimal kita harus bersiap dalam menghadapi musibah,” ucap Hanyeq.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....