Anggaran Riset Jadi Tantangan Pengembangan Teknologi di Indonesia
- 22 Jul 2026 13:02 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Samarinda - Pengembangan riset dan teknologi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi pendanaan yang dinilai belum memadai untuk mendorong lahirnya inovasi secara berkelanjutan. Kondisi tersebut semakin terasa di daerah maupun di lingkungan perguruan tinggi yang memiliki keterbatasan anggaran penelitian.
Di sejumlah negara maju, alokasi anggaran riset dapat mencapai sekitar empat persen sehingga mampu mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi secara konsisten. Sementara itu, besaran anggaran riset di Indonesia masih jauh di bawah angka tersebut sehingga menjadi tantangan dalam meningkatkan daya saing nasional.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur, Dr. M. Fitriansyah mengatakan keterbatasan pendanaan riset menjadi salah satu faktor yang memengaruhi percepatan pengembangan inovasi di daerah. Meski demikian, pemerintah daerah terus berupaya memperkuat ekosistem riset melalui berbagai program kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian.
"Di negara-negara maju anggaran riset dapat mencapai sekitar empat persen dari DJB. Kondisi tersebut masih sangat berbeda dengan yang diterapkan di Indonesia, terutama di daerah maupun di lingkungan perguruan tinggi," ujar Fitriansyah, Rabu, 22 Juli 2026.
Menurutnya, selain persoalan anggaran, daerah juga dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan indeks daya saing yang menjadi salah satu indikator penting dalam pengembangan riset dan inovasi. Penilaian tersebut turut menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penguatan ekosistem penelitian.
Ia menjelaskan salah satu indikator yang dinilai dalam indeks daya saing adalah besaran belanja riset yang dilakukan pemerintah daerah. Data tersebut dihimpun oleh Kementerian Dalam Negeri sebagai bagian dari evaluasi terhadap komitmen daerah dalam mendukung riset dan inovasi.
"Kami juga memiliki tantangan untuk meningkatkan indeks daya saing, yang salah satu indikatornya adalah belanja riset daerah. Data tersebut didata oleh Kementerian Dalam Negeri untuk menilai dukungan pendanaan riset dan inovasi di setiap daerah," katanya.
BRIDA Kalimantan Timur berharap peningkatan dukungan anggaran, kolaborasi lintas lembaga, serta keterlibatan perguruan tinggi dapat memperkuat kapasitas riset daerah. Upaya tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang mendukung pembangunan, meningkatkan daya saing, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....