Digantikan Kutim, Pelajar Kubar Tak Lolos Paskibraka Nasional
- 24 Jun 2024 01:56 WIB
- Sendawar
KBRN, Sendawar : Rasa kecewa langsung diutarakan Gregorius Attara, pelajar asal Kabupaten Kutai Barat (Kubar), usai gagal mewakili Provinsi Kalimantan Timur sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional pada peringatan HUT RI, 17 Agustus 2024 mendatang.
Attara dinyatakan tidak lolos secara kontroversial pada detik-detik akhir seleksi nasional di Jakarta, 9-13 Juni lalu. Padahal, dia menduduki peringkat satu pada seleksi tingkat kabupaten maupun provinsi.
"Saya sangat kecewa karena sudah melalui semua seleksi dengan kerja keras, dari kabupaten sampai provinsi, namun tidak memuaskan karena hasil akhir di pusat hanya sebagai cadangan," kata Attara kepada RRI Sendawar, Senin (24/6/2024).
Proses Seleksi dan Nilai Tertinggi
Pelajar SMA Negeri 1 Sendawar, Kutai Barat ini menjelaskan, awalnya dia mengikuti seleksi dan tes dari tingkat kabupaten dan berhasil menjadi yang terbaik. Tes yang diikuti antara lain Samapta, tes fisik, MCU atau tes kesehatan, dan parade. Kemudian Tes Intelegensia Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), wawancara, tes minat bakat, serta tes kepribadian atau psikologi.
Tes yang sama juga dilakukan di tingkat provinsi di Samarinda, dan Attara tetap menjadi yang terbaik, meraih peringkat satu dari puluhan peserta. Berdasarkan hasil seleksi tersebut, terpilih dua orang pria dan dua orang wanita yang mewakili Kaltim di tingkat nasional.
Calon Paskibraka Putra:
1. Gregorius Attara (SMAN 1 Sendawar - Kutai Barat)
2. Ananda Deni Pradana (SMAN 4 Balikpapan - Kota Balikpapan)
Calon Paskibraka Putri:
1. Uqaila Nur Mahmudah (SMA YPK Bontang – Kota Bontang)
2. Livenia Evelyn Kurniawan (SMK Santo Fransiskus Assisi – Samarinda)
BACA JUGA:
Dua Wakil dari Sulawesi Barat Terpilih untuk Paskibraka 2024
Kontroversi di Seleksi Nasional
Anehnya menurut Attara, pelajar asal Kutai Timur atas nama Sunu Wahyudi, yang awalnya tidak masuk sebagai peserta yang mewakili Kaltim pada seleksi nasional, tiba-tiba ikut dalam rombongan Kaltim ke Jakarta.
"Setahu saya, awalnya hanya dua pasang yang ada dalam berita acara yang bakal berangkat, tetapi sebelum hari keberangkatan, dia masuk dalam rombongan di bandara," jelas Attara.
”Kami tanyakan kok ada kamu? Alasannya dia dikasi tahu dari provinsi dan diminta dari nasional untuk diberangkatkan juga, jadi kami berpikir mungkin untuk Kaltim spesial (ada tambahan) karena upacaranya di IKN, jadi kita tuan rumah mungkin dikasih lebih jantahnya,” tambah Attara.

Remaja 16 tahun ini mengungkapkan, pada seleksi nasional, semua pelajar Kaltim yang meraih peringkat satu justru tidak lolos seleksi. Termasuk dirinya dan Uqaila Nur Mahmudah yang hanya jadi cadangan.
Yang lolos mewakili Kaltim adalah Sunu Wahyudi dari Kutai Timur yang baru masuk belakangan serta Livenia Evelyn Kurniawan, siswi peringkat dua dari Samarinda.
”Jadi Kaltim ini yang peringkat satu malah dicadangkan semua. Sementara teman yang peringkat dua dari Balikpapan itu malah hilang dari daftar lampiran sebagai cadangan. Yang lolos nasional justru yang baru masuk belakangan dan perempuan yang peringkat dua,” ujar Attara.
BACA JUGA:
Ini Penjelasan BPIP Terkait Polemik Seleksi Paskibraka 2024
Pelajar kelahiran Saka Lotoq, Kutai Barat ini menambahkan, proses seleksi di Jakarta justru lebih sedikit jika dibandingkan dengan provinsi.
Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) selaku penyelenggara juga tidak lagi memasukkan tes tertulis TIU dan TWK. Hanya ada tambahan tes baris-berbaris, Samapta, MCU dan tes psikologi.
Namun, dalam pengumuman resmi BPIP, namanya dijadikan cadangan, diduga digantikan pelajar asal Kutai Timur. Pengumuman resmi pun baru sampai ke tangan peserta lebih dari seminggu kemudian.
”Pengumuman itu justru tidak ada di BPIP, kami dapatnya dari provinsi itu pun karena saya pingin tahu karena di provinsi lain sudah keluar hanya kami di Kaltim yang belum makanya saya tanya ke Provinsi. Saya lihat hasilnya tidak ada nama saya jadi kaget dan sangat kecewa,” katanya.
BACA JUGA:
Terpilih Paskibraka Nasional, Loris Akbar Djailanie Ucap Syukur
Kurangnya Transparansi dan Informasi
Attara merasa BPIP kurang transparan, karena tidak ada informasi apapun soal alasan peserta yang tidak lolos. Situs resmi BPIP juga tidak bisa diakses di internet.
"Jika memang saya tidak lolos, kenapa link BPIP Paskibraka itu tidak bisa dibuka? Saya harapkan diberitahu kekurangan saya di mana," ungkapnya.
Meski demikian, masih ada secercah harapan bagi Attara dan rekan-rekannya yang tidak lolos calon Paskibraka Nasional, karena pemerintah berencana menggelar apel peringatan HUT Kemerdekaan RI di dua tempat, yaitu di ibu kota baru IKN Nusantara dan Istana Negara Jakarta.
”Walaupun belum pasti tapi kami masih berharap semoga dipanggil lagi untuk pengibaran bendera di istana,” ucapnya penuh harap.
BACA JUGA:
Attara Gugur Paskibraka, Pemkab Kubar Minta Penjelasan BPIP
Rasa kecewa juga diungkapkan Ramadan, Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kutai Barat, yang sejak awal mendampingi Attara.
Menurutnya, panitia seleksi Paskibraka tingkat kabupaten dan provinsi sudah mengikuti aturan BPIP, namun saat seleksi nasional, nama-nama yang lolos tidak sesuai hasil seleksi provinsi.
”Kita sedih dan kecewa karena ananda kita Attara pada saat seleksi di provinsi kemarin itu peringkat satu terbaik se-Kaltim sehingga berhak mengikuti seleksi tingkat nasional, tapi justru tidak lolos,” ungkap Ramadan kepada wartawan di kantor Bupati Kubar, Senin (24/6) pagi.
Dia mengaku sejauh ini panitia provinsi dan pusat belum memberikan penjelasan soal tambahan peserta yang sudah gugur dari provinsi tetapi diikutkan ke seleksi nasional.
”Yang ironinya mereka yang sudah ditetapkan dalam berita acara, setelah seleksi di Jakarta justru malah tidak lolos tingkat nasional, ini ada apa,” tanya dia.
Ramadan juga mengaku heran sebab ada informasi bahwa Attara tidak lolos karena kalah saing saat uji TWK. Sementara saat tes tingkat provinsi nilainya lebih tinggi dari semua peserta. Sedangkan di nasional tidak ada tes ulang soal TWK.
”Tapi anehnya sampai di nasional tidak lolos dengan alasan TWK kalah saing dengan anak Kutim yang namanya saja tidak masuk berita acara. Ini yang enggak masuk akal, nah ini yang menjadi tanda tanya besar bagi kita,” tukasnya.
Ramadan mengatakan akan mencoba meminta penjelasan langsung ke BPIP terkati kontroversi tersebut.
”Tim dari Kutai Barat saat ini berupaya untuk berkomunikasi minta kejelasan ke panitia Provinsi. Tidak menutup kemungkinan kita juga akan berkomunikasi langsung dengan BPIP.
”Karena mereka menghimbau kepada kita kabupaten kota dan Provinsi untuk melaksanakan seleksi ini secara transparan dan tidak ada permainan, tapi sayang sekali setelah kami melaksanakan itu dengan baik dan benar malah kita melihat di pusat sendiri tidak menggunakan aplikasi bahkan alasan tidak lolos itu juga tidak jelas,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....