Sisi Ganda Daging Ular: Khasiat Tradisional dan Risiko Nyata Kesehatan

  • 21 Sep 2026 09:20 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Daging ular kerap dikonsumsi sebagian masyarakat sebagai sumber protein alternatif atau obat tradisional penambah stamina dan penyembuh penyakit kulit. Di balik mitos kehangatan tubuh yang ditawarkan, konsumsi reptil ini menuntut sudut pandang medis yang obyektif dan berbasis bukti.

Berdasarkan kajian dalam Journal of Food Science and Technology, daging ular memang menyediakan profil asam amino esensial tinggi yang mirip dengan unggas. Kendati demikian, studi zoologi medis dalam International Journal of Food Microbiology menekankan bahwa jaringan otot ular sering kali menjadi wadah reservoir parasit zoonosis seperti Sparganum (larva pita) dan bakteri patogen.

Risiko kesehatan serius mengintai penikmat hidangan ekstrem ini melalui transmisi sparganosis. Infeksi parasit tersebut mampu berpindah ke jaringan subcutaneous, mata, atau sistem saraf pusat akibat proses pemasakan yang kurang sempurna atau tradisi konsumsi darah/empedu mentah.

Dari sisi toksikologi pangan, akumulasi logam berat dari habitat liar tempat ular mencari makan turut mendatangkan ancaman nefrotoksisitas kronis. Ginjal bekerja ekstra keras menyaring residu xenobiotik yang tersimpan pada lemak dan organ reptil tangkapan alam.

Kendati klaim tradisional menyebutkan khasiat antiinflamasi dan peningkatan vitalitas, validasi klinis pada manusia masih sangat terbatas. Pemanfaatan terapeutik modern jauh lebih aman diarahkan pada sumber nutrisi standar bersertifikasi higienitas tinggi.

Oleh karena itu, kewaspadaan mutlak diberlakukan bagi masyarakat yang tergoda mencicipi kuliner ekotis ini. Proteksi keselamatan organ dalam jauh lebih berharga daripada sensasi kuliner sesaat yang mengabaikan standar keamanan pangan global.

Tips Aman dan Alternatif Rasional Konsumsi Protein

  • Hindari liar: Jauhi konsumsi daging ular tangkapan liar bebas yang berisiko tinggi membawa parasit Sparganum.
  • Pilih standar: Alihkan kebutuhan protein ekstrim/unik ke sumber ternak konvensional bersertifikasi BPOM/HALAL.
  • Waspada parasit: Pastikan tidak pernah mengonsumsi bagian darah atau empedu mentah hewan melata.

Menimbang risiko infeksi zoonosis versus nilai gizi, bijak menolak sajian ekstrem adalah keputusan preventif cerdas. Kesehatan jangka panjang ditentukan oleh seleksi pangan yang terverifikasi aman secara higienis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....