Gula Aren Lebih Sehat dari Gula Pasir? Cek Faktanya

  • 18 Feb 2026 20:18 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Perdebatan mengenai pemanis alami kerap menempatkan gula aren sebagai pilihan utama bagi masyarakat yang peduli kesehatan. Tidak sedikit yang meyakini bahwa mengganti gula pasir dengan gula aren dapat menurunkan risiko diabetes secara instan. Namun, benarkah anggapan tersebut terbukti secara medis?

Berdasarkan publikasi dalam International Journal of Food Science, gula aren memiliki nilai indeks glikemik lebih rendah dibandingkan gula pasir. Indeks glikemik gula aren berada di kisaran 35, sedangkan gula pasir berkisar antara 60 hingga 65. Artinya, konsumsi gula aren cenderung tidak menyebabkan lonjakan gula darah secepat gula pasir.

Dengan indeks glikemik yang lebih rendah, gula aren dinilai memberikan beban kerja yang relatif lebih ringan bagi pankreas dalam memproduksi insulin. Kondisi ini membuat gula aren kerap dianggap sebagai alternatif yang lebih ramah bagi pengendalian kadar gula darah, khususnya jika dikonsumsi dalam jumlah terbatas.

Selain itu, gula aren tidak melalui proses rafinasi seketat gula pasir. Karena itu, sejumlah mineral seperti kalium, zat besi, dan magnesium masih terkandung di dalamnya. Meski demikian, para ahli kesehatan menegaskan bahwa gula aren tetap mengandung sukrosa dan kalori yang cukup tinggi.

Konsumsi gula aren secara berlebihan tetap berisiko meningkatkan berat badan, resistensi insulin, serta gangguan metabolisme lainnya. Dengan kata lain, penggantian jenis gula tidak serta-merta menghilangkan risiko penyakit apabila pola konsumsi tidak dikendalikan.

Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi gula tidak melebihi 50 gram atau sekitar empat sendok makan per hari. Selain itu, masyarakat diimbau untuk memperhatikan label produk, khususnya pada gula aren cair, agar terhindar dari campuran sirup jagung atau pemanis buatan.

Pada akhirnya, pemanis sebaiknya digunakan sebagai pelengkap rasa, bukan sebagai sumber energi utama dalam pola makan harian. Pola konsumsi seimbang dan gaya hidup aktif tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan metabolik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....