Bukan Cuma Miskin, Pola Asuh Salah Jadi Pemicu Stunting
- 14 Feb 2026 23:17 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Angka prevalensi stunting di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) yang kini mencapai 27,6 persen ternyata tidak hanya berakar pada persoalan ekonomi. Fakta mengejutkan terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Strategi Penguatan SDM antara Pemkab Kubar dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Kubar baru-baru ini.
Dalam diskusi lintas OPD terungkap fakta bahwa pola asuh yang keliru menjadi salah satu pemicu utama anak mengalami gangguan tumbuh kembang.
Kepala Dinas Pertanian Kutai Barat, Stepanus Alexander Samson, menegaskan bahwa stunting atau gizi buruk tidak melulu identik dengan keluarga tidak mampu. Banyak kasus ditemukan pada keluarga yang secara finansial cukup, namun gagal memberikan asupan gizi yang tepat bagi anak.
Fenomena Anak 'Hobi Jajan' Ketimbang Makan Bergizi
Dalam pemaparannya, Stepanus menyoroti perilaku orang tua yang cenderung praktis dalam memberikan makanan kepada anak. Seringkali, anak-anak dibiarkan mengonsumsi jajanan rendah gizi seperti pentol, bakso, atau makanan instan lainnya daripada makanan rumah yang dimasak dengan gizi seimbang.
"Anak kurang gizi tidak selalu terkait dengan keluarga miskin. Terkadang ini masalah kebiasaan. Orang tua lebih memilih memberikan jajanan terus-menerus kepada anaknya padahal masih dalam usia pertumbuhan emas. Hal ini dalam jangka panjang merusak kesehatan dan gizi anak," ujar Stepanus memaparkan hasil diskusi kelompok mengenai persoalan stunting.
Ia mencontohkan pengalamannya melihat pola konsumsi masyarakat yang lebih bergantung pada penjual makanan keliling daripada mengolah bahan makanan bergizi di dapur sendiri. Kurangnya literasi mengenai cara pengolahan dan pemberian makan yang benar membuat anak kehilangan asupan protein dan vitamin yang krusial.
“Orang tua yang bekerja semua cenderung memberi makanan cepat saji atau dibeli di jalanan, nah ini juga mempengaruhi tumbuh kembang anak,” katanya.
Peran Vital Ayah yang Terabaikan
Menambahkan perspektif pola asuh, Analis BSKDN Kemendagri, Ira Hayatunisma, menyentil minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan di Kubar. Menurutnya, selama ini, urusan gizi dan kesehatan anak dianggap sepenuhnya sebagai beban ibu.
"Kita terlalu patriarkis. Masalah anak sakit, melahirkan, sampai stunting, semua dilemparkan ke ibu. Padahal Indonesia adalah salah satu negara dengan peran ayah (father parenting) yang sangat minim. Bapak-bapak perlu diedukasi bahwa mereka adalah tokoh idola bagi anak. Sikap dan tindakan mereka akan diikuti oleh anak," ucap Ira tegas.
Solusi Jangka Pendek: Edukasi dan Pemberdayaan
Sebagai langkah konkret mengatasi masalah pola asuh ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menyiapkan serangkaian solusi jangka pendek, antara lain:
- Edukasi Gizi: Sosialisasi masif kepada orang tua mengenai cara pengolahan makanan sehat di tingkat kampung.
- Optimalisasi Posyandu: Melibatkan kader untuk memantau pemberian makan anak usia 0-2 tahun secara berkelanjutan.
- Parenting untuk Ayah: Program edukasi yang menyasar kaum laki-laki agar lebih peduli terhadap tumbuh kembang anak.
DP2KBP3A Kubar juga terus menggulirkan Program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) untuk membantu keluarga berisiko melalui pendampingan dan donasi rutin. Dengan perbaikan pola asuh dan peningkatan literasi gizi, diharapkan angka stunting di Kubar dapat ditekan tanpa hanya mengandalkan bantuan materi semata.
Dan kebetulan dari BOKB kita untuk 2026 ini juga kita itu sudah ada beberapa itu orang tua asuh yang ada di Kutai Barat ini. Dan dilakukan pembinaan. Kalau stunting kan tidak bisa hanya dari pemerintah saja.
“Kita juga mau menggalang dari mitra pentahelik, dari masyarakat yang berkemampuan cukup. Tidak menutup kemungkinan dari perangkat daerah, dari kecamatan akan kita rangkul juga sebagai orang tua asuh,” ujar perwakilan DP2KB-P3A Kubar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....