Hadapi Era AI, Kubar Dorong Penguatan SDM Pendidikan Selaras Asta Cita

  • 24 Jun 2026 11:58 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Gelombang kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) kini tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mulai menggeser wajah pendidikan di ruang-ruang kelas.

Perubahan ini menempatkan dunia pendidikan pada titik penting, yakni beradaptasi atau tertinggal.

Di tengah situasi tersebut, isu utama bukan lagi sekadar peningkatan fasilitas atau kurikulum, tetapi kesiapan sumber daya manusia pendidikan dalam menghadapi perubahan yang bergerak jauh lebih cepat dibanding sistem itu sendiri.

Di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), arah ini mulai ditegaskan sebagai bagian dari penguatan SDM pendidikan yang juga dikaitkan dengan Program Asta Cita Presiden, khususnya pada aspek pembangunan manusia dan transformasi pendidikan.

Wakil Bupati Kubar, Nanang Adriani, menilai, tantangan terbesar pendidikan saat ini justru berada pada kemampuan guru dan kepala sekolah dalam membaca perubahan zaman, bukan hanya menjalankan rutinitas pengajaran.

Menurutnya, guru dan kepala sekolah kini berada pada posisi strategis sebagai penggerak utama perubahan di sekolah, bukan sekadar pelaksana proses belajar mengajar.

“Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan," kata Nanang, Rabu 23 Juni 2026.

Karena itu lanjutnya, guru dan kepala sekolah dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Nanang juga menekankan, perubahan di dunia pendidikan tidak akan berarti tanpa adanya ruang inovasi di tingkat sekolah. Karena itu, satuan pendidikan dituntut mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih terbuka terhadap pembaruan.

Namun di balik dorongan inovasi itu, terdapat satu tantangan besar yang disorot: kepemimpinan pendidikan. Kepala sekolah dan guru kini tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga mengambil peran sebagai pemimpin perubahan di lingkungan pendidikan.

“Kepala sekolah dan guru harus memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, serta pengambilan keputusan yang baik untuk menghadapi berbagai tantangan pendidikan saat ini,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, AI dan teknologi digital tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat percepatan transformasi pendidikan.

Namun, teknologi tersebut tetap harus berada dalam kendali nilai dan karakter manusia.

“Pemanfaatan teknologi dan AI harus diimbangi dengan penguatan karakter, literasi digital, etika, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan,” ucap Nanang.

Dari Kutai Barat, arah kebijakan ini kemudian diposisikan sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda besar nasional melalui Program Asta Cita Presiden, yang menempatkan pembangunan manusia sebagai fondasi utama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....