Asa Petani Muara Jawa Menuai Padi Gogo di Jantung Pembangunan IKN

  • 10 Apr 2026 23:55 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Nusantara – Matahari pagi baru saja meninggi di langit Muara Jawa, kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis 9 April 2026. Namun keriuhan sudah pecah di hamparan lahan kuning keemasan.

Puluhan petani tampak sigap menyabit batang-batang padi, menandai dimulainya panen padi gogo bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dan berbagai pihak.

Di balik keringat yang menetes, terselip harapan besar agar pertanian lokal tetap tegak berdiri di tengah deru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Bagi warga setempat, panen ini bukan sekadar rutinitas agraris. Momen ini menjadi panggung terbuka yang mempertemukan suara akar rumput dengan para pemegang kebijakan. Di sela-sela memetik hasil bumi, dialog mengalir hangat antara masyarakat, Otorita IKN, hingga perwakilan sektor swasta.

Inovasi Organik di Tanah Nusantara

Padi gogo yang dipanen kali ini merupakan buah kerja sama riset dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Menariknya, tren pertanian di kawasan penyangga IKN mulai bergeser ke arah keberlanjutan.

Perwakilan PT Pupuk Kalimantan Timur, Joko, mengaku pihaknya berkomitmen mendukung konsep pertanian regeneratif yang diusung IKN. Ia menyebut perusahaan akan meminimalkan penggunaan pupuk kimia demi menjaga ekosistem.

"Kami akan menyesuaikan dengan konsep IKN yang regeneratif. Meski kami produsen pupuk, kami akan meminimalkan bahan kimia dan mendorong petani beralih ke pupuk organik serta kompos. Kami siap berkolaborasi penuh dengan OIKN untuk pengembangan ini," ujar Joko.

Suara dari Kelompok Wanita Tani

Namun, di balik keberhasilan panen padi gogo, para petani tak menampik adanya tantangan nyata. Diana, perwakilan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nauli, menyampaikan kegelisahan kaum ibu yang mengelola lahan bukan di sawah luas melainkan pekarangan di 13 kelompok KWT se-Muara Jawa.

“Kami berharap ada pendampingan agar KWT di Muara Jawa ini bisa berkembang lebih baik,” ujar Diana.

Pertemuan petani Muara Jawa dan jajaran Otorita IKN serta pihak terkait saat panen bersama padi gogo, Kamis 9 April 2026. Foto: OIKN.

Nada serupa datang dari Sarnu, Ketua Gapoktan Maju Sejahtera. Memimpin 19 kelompok tani dengan lebih dari 400 anggota, Sarnu memikul beban mengelola lahan seluas 400 hektar.

Baginya, romantisme panen raya harus dibarengi dengan solusi atas kendala klasik petani. "Keluhan utama kami tetap sama, yaitu alsintan (alat dan mesin pertanian) dan pupuk. Itu yang paling mendesak," ucap Sarnu tegas.

Selain itu, ia menyoroti akses jalan menuju lahan pertanian yang kerap menyulitkan mobilisasi hasil panen. Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik IKN, tetapi juga memerhatikan aksesibilitas sektor persawahan.

Dia menilai, pertanian di wilayah penyangga seperti Muara Jawa tetap memegang peran penting di tengah pembangunan Nusantara yang terus berlangsung. Karena itu kolaborasi lintas pihak menjadi kunci agar sektor ini tumbuh dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....