Lima Lokasi Potensial untuk Cetak Sawah Baru di Kutai Barat
- 25 Mar 2026 19:30 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Pemerintah mulai memetakan sejumlah lokasi potensial untuk program cetak sawah baru di Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Namun, lokasi final masih menunggu hasil survei dari pemerintah provinsi Kaltim.
Kepala Dinas Pertanian Kubar, Stepanus Alexander Samson, mengatakan tim sudah turun ke lapangan untuk mengecek sejumlah titik.
“Memang ada rencana cetak sawah, tapi masih dicek. Belum ada hasil final karena harus dipastikan lahannya benar-benar bisa menghasilkan,” ujarnya kepada RRI Sendawar, Rabu 25 Maret 2026.
Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin asal mencetak sawah tanpa keberlanjutan. Tim akan mengecek kesuburan tanah, sistem drainase, dan ketersediaan air sebelum menentukan lokasi.
“Bukan hanya tanah kosong yang dicek. Semua dilihat, termasuk dukungan airnya,” katanya.
Menurutnya, pemerintah provinsi sudah melakukan survei awal. Namun hingga kini, laporan resmi belum diterima oleh pemerintah daerah.
“Provinsi sudah turun, tapi progresnya kami belum dapat laporan,” ucapnya.
Ia menambahkan, program ini juga menjadi jawaban atas ancaman berkurangnya lahan pertanian di Kutai Barat. Saat ini, banyak lahan dikuasai korporasi perkebunan skala besar.
Program cetak sawah ini merupakan bagian dari kegiatan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan pagu anggaran mencapai Rp164,7 miliar melalui Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian Kelas II Banjarbaru.
Sementara itu berdasarkan pemetaan sementara, setidaknya ada lima lokasi yang potensial untuk cetak sawah baru. Yakni kawasan Rapak Oros di kecamatan Linggang Bigung, kawasan Gleo Baru kecamatan Barong Tongkok, kawasan Empas di kecamatan Melak. Kemudian kawasan Jengan Danum kecamatan Damai serta beberapa wilayah di kecamatan Bongan, Jempang dan Siluq Ngurai.
Defisit Beras Masih Tinggi
Di sisi lain, Kutai Barat masih menghadapi defisit beras sekitar 19.000 ton per tahun. Kondisi ini membuat daerah bergantung pada pasokan dari luar dan memicu kenaikan harga di pasar.
Akademisi dari Politeknik Negeri Samarinda, Prof. Edwin Halim, mendorong percepatan penguatan sektor pertanian. Ia menilai Kutai Barat harus serius mengelola potensi lahan yang ada agar tidak terus bergantung pada pasokan luar daerah.
“Kalau tidak dikelola serius, kita akan terus bergantung dari luar,” ujarnya.
Edwin menawarkan tiga langkah utama untuk mengejar swasembada beras.
Pertama, percepatan pembangunan Bendungan Muara Asa yang mampu mengairi 2.500 hektare sawah dan menghasilkan hingga 33.000 ton beras per tahun.
Kedua, perbaikan irigasi teknis di wilayah Bongan agar lahan kembali produktif. Ketiga, optimalisasi daerah irigasi Gadur seluas 100 hektare sebagai solusi cepat peningkatan produksi.
Ia menekankan, semua langkah ini membutuhkan dukungan kebijakan dan perlindungan lahan pertanian agar tidak terus beralih fungsi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....