Festival Payung Indonesia XIII di Solo Bakal Hadirkan Pesona Budaya Nusantara
- 30 Agt 2026 17:53 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Kota Surakarta kembali bersiap menjadi panggung perayaan budaya melalui Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII 2026. Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-13 ini akan berlangsung pada 4–6 September 2026 di Taman Balekambang, Solo, dengan mengangkat tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”. Informasi tersebut tercantum dalam laman resmi Indonesia Travel yang dikelola Kementerian Pariwisata.
Tema tersebut membawa payung tradisional ke dalam narasi yang lebih luas tentang padi, ketahanan pangan, budaya, dan kehidupan masyarakat. Menurut Indonesia Travel, FESPIN 2026 tidak hanya menghadirkan instalasi seni payung, tetapi juga melibatkan komunitas seni, ekonomi kreatif, lingkungan, serta masyarakat dalam berbagai aktivitas budaya.
Festival ini menjadikan payung bukan sekadar benda untuk melindungi tubuh dari panas dan hujan, tetapi sebagai medium ekspresi seni sekaligus simbol kekayaan tradisi Nusantara. Beragam karya payung dari berbagai komunitas akan menjadi bagian dari ruang kreatif yang mempertemukan seni, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Informasi dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah melalui Visit Jateng menyebutkan FESPIN 2026 akan menghadirkan seni tari, musik, fashion show, pasar kuliner, serta pameran UMKM. Seluruh rangkaian tersebut dipusatkan di Taman Balekambang, Kota Surakarta.
Dari sisi penyelenggaraan, FESPIN juga memiliki jejaring budaya internasional. Indonesia Travel mencatat festival ini memiliki hubungan sister-festival dengan Bosang Umbrella Festival di Chiang Mai, Thailand. Jejaring tersebut memperluas ruang pertukaran budaya melalui medium seni payung.
Kehadiran festival ini juga melanjutkan perjalanan panjang FESPIN sebagai agenda budaya di Solo. Badan Otorita Borobudur Kementerian Pariwisata mencatat Festival Payung Indonesia telah diselenggarakan sejak 2014 oleh Mataya Arts & Heritage. Pada 2025, festival tersebut memasuki penyelenggaraan ke-12 dengan mengangkat tema “Catra Panji”.
Pada penyelenggaraan 2026, tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri” memberi penekanan baru terhadap hubungan antara budaya padi dan kehidupan masyarakat. Padi ditempatkan bukan hanya sebagai komoditas pangan, tetapi juga bagian dari sejarah, tradisi, dan identitas budaya Nusantara. Hal ini sejalan dengan keterangan resmi Indonesia Travel yang menyebut tema tersebut menyoroti pentingnya ketahanan pangan serta peran padi dalam sejarah bangsa.
Festival Payung Indonesia juga menjadi ruang bagi pelaku seni dan ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat. Instalasi payung, pertunjukan seni, kuliner, hingga produk UMKM memberikan kesempatan bagi berbagai komunitas untuk tampil sekaligus berinteraksi dengan pengunjung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....