Ki Ageng Gribig dan Tradisi Yaa Qowiyyu, Sejarah Penyebaran Islam di Jawa

  • 07 Agt 2026 23:37 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Di wilayah Klaten,menjelang pertengahan Bulan Sapar dalam kalender Jawa, ada sebuah tradisi agung yang menjadi ikon budaya daerah. Yaitu Sebaran Apem Yaa Qowiyyu di Kecamatan Jatinom.

Tradisi ini bukan sekadar festivaL, namun juga bentuk perpaduan antara spiritualitas, sejarah, dan keramaian rakyat yang unik. Setiap tahun, puluhan ribu kue apem dibagikan kepada masyarakat yang percaya bahwa apem tersebut membawa berkah dan kekuatan.

Kisah bermula dari nama Ki Ageng Gribig adalah ulama penyebar Islam sekaligus keturunan Raja Brawijaya V. Ia hidup pada era Kerajaan Mataram Islam.

Konon, usai menunaikan ibadah haji, ia membawa oleh-oleh berupa tiga buah kue apem dari tanah suci. Saat dibagikan kepada masyarakat yang datang, kue tersebut tidak mencukupi.

Karena keterbatasan itu, Ki Ageng Gribig berdoa memohon pertolongan Allah seraya mengucapkan zikir "Yaa Qowiyyu" (يا قوي). Sedangkan arti dari doa tersebut adalah "Wahai Tuhan Yang Maha Kuat".

Setelah itu, sisa adonan apem dibuat menjadi banyak dan dibagikan secara merata. Sejak saat itu, tradisi sebaran apem dengan zikir tersebut dilestarikan turun temurun hingga kini.

Ritual ini dipusatkan di Kompleks Makam Ki Ageng Gribig dan Masjid Agung Jatinom. Apem yang sudah disiapkan, akan diarak dan diletakkan di sebuah panggung tinggi membentuk gunungan Apem.

Masyarakat percaya, apem yang berhasil didapatkan akan membawa berkah, keberuntungan, dan kekuatan. Selain sebaran apem, tradisi ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan budaya dan religi.

Seperti pasar malam, pertunjukan berbagai kesenian tradisional, dan ziarah ke makam Ki Ageng Gribig. Keramaiannya bukan sekadar festival musiman, tetapi perayaan kolektif atas harapan dan spiritualitas yang telah diwariskan turun-temurun

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....