Unnes Gelar FGD Eco Culture Tourism, Komitmen Dukung Pembangunan Desa Wisata Cokro

  • 01 Mei 2026 22:02 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Klaten - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Sinergi Kolaborasi Penguatan Eco Culture Tourism di Desa Wisata Cokro melalui Penguatan Pentahelix. FGD menjadi bagian program Equity-UNNES Global Fellow guna mendorong kemajuan desa wisata berkelanjutan.

Diskusi yang juga menjadi ajang desiminasi dan evaluasi Desa Wisata Cokro atas pendampingan Unnes, berlangsung di Joglo Latar Tjokro, Desa Cokro, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Rabu, 29 April 2026. "Unnes telah melakukan pemberdayaan selama dua tahun pendampingan, mulai pengurusan SK desa wisata hingga standarisasi layanan," kata Kepala Pusat Pengembangan KKN LPPM Unnes Dr Edi Kurniawan MPd.

Pada tahun ketiga, pihaknya akan fokus mengarahkan pembangunan desa wisata pada pengelolaan manajemen dan pengembangan homestay. Desa wisata Cokro dengan potensi alamnya, cukup menarik kunjungan wisatawan.

"Cokro punya potensi luar biasa mulai dari mata air, sungai, hingga eduwisata seperti penetasan telur bebek, gamelan, dan kerajinan janur. Harapannya, Desa Cokro menjadi desa wisata yang maju dan dikenal luas, yang muaranya mampu menyejahterakan masyarakat," ujar Edi.

Menurut dia, pendampingan Unnes tidak sekadar pengembangan pariwista, tapi juga langkah konkret mendukung agenda global berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Seperti di antaranya FGD dan pendampingan lapangan berperan besar dalam meningkatkan literasi masyarakat.

Terkait pengelolaan desa wisata, juga mengedepankan prinsip konservasi dan pemberdayaan berbasis pengetahuan dari bagian SDG 4 Quality Education. Sesuai dengan SDG 11-Sustainable Cities and Communities, program yang berjalan mendukung terwujudnya Desa Cokro sebagai desa wisata berkelanjutan.

Ia mengatakan, perlunya menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan pelestarian lingkungan serta budaya lokal. Kaitannya SDG 16 – Peace, Justice and Strong Institutions, Unnes mendorong tata kelola desa yang transparan dan akuntabel.

Hal ini dilakukan melalui fasilitasi penyusunan SK Desa Wisata serta penguatan kelembagaan antara Pokdarwis dan BUMDes. Terakhir, mengenai SDG 17 – Partnership for the Goals, melalui model pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, komunitas, pebisnis, dan media.

"Diharapkan nantinya tercipta kemitraan strategis untuk mencapai tujuan pembangunan nasional," tandasnya. FGD tersebut dihadiri akademisi, perwakilan kementerian, dinas provinsi dan kabupaten, termasuk perangkat desa serta pengurus BUMDes Tirta Kencana.

Edi menuturkan, kegiatan tersebut didukung oleh UNNES melalui program EQUITY DAPT yang didanai oleh LPDP Indonesia di bawah Kontrak No. 4311/B3/DT.03.08/2025 dan No. T/15487/UN37/PR.00.02/2025. Perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Oneng Setya Harini yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, langkah Unnes sejalan dengan program prioritas nasional yang kini masuk undang-undang kepariwisataan terbaru.

"Dalam dua tahun, perkembangannya luar biasa dan atraksi di sini sangat potensial. Meski ada catatan untuk peningkatan kualitas amenitas seperti pengelolaan sampah dan standar toilet, namun sinergi antara pengelola dan komunitas seni di sini sudah sangat menyatu," ungkap Oneng.

Perwakilan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah Cahyo Nugroho menekankan pentingnya keselarasan regulasi. Kehadiran Perda Nomor 15 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan menjadi payung hukum, supaya pendampingan kampus dan aktivitas riil di lapangan berjalan sinkron.

Sementara, Kabid Pariwisata Disbudporapar Kabupaten Klaten Dwi Murwanti mengemukakan, digital marketing dan pengalaman wisatawan, jadi tantangan kedepan. "Wisatawan harus pulang membawa pengalaman yang berbeda, kami pun sedang fokus pada sertifikasi kompetensi SDM agar keamanan dan kenyamanan terjaga,” jelasnya.

Selain itu tantangan lainnya terkait ketersediaan transportasi publik bagi wisatawan mandiri dan pengelolaan sampah melalui TPS 3. Di sisi lain, Kepala Desa Cokro, Heru Budi Santosa menuturkan, kerja sama dengan Unnes dan dinas terkait mampu memberi dampak nyata bagi Pendapatan Asli Desa (PAD) dan mendukung program Wonderful Indonesia.

"Bukan hanya potensi airnya, kami juga kami punya seni kethoprak, lesung, tarian dan karawitan. Selain Latar Tjokro dan OMAC, wisata tubing dan kuliner sate kere menjadi andalan," ungkapnya. Dengan hubungan antar-stakeholder, maka perekonomian warga Desa Cokro juga semakin meningkat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....