Gereja Blenduk, Simbol Toleransi di Tengah Kota Lama

  • 07 Feb 2026 06:41 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Gereja Blenduk berdiri megah di kawasan Kota Lama Semarang dan menjadi salah satu ikon bangunan bersejarah kota. Keberadaannya kerap dipandang sebagai simbol keragaman dan toleransi yang tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Semarang.

Gereja ini telah ada sejak masa kolonial dan terpelihara dengan baik hingga saat ini. Sebagai bangunan cagar budaya, Gereja Blenduk dilindungi pemerintah karena memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi.

Dalam kajian Handinoto berjudul “Arsitektur Kolonial Belanda di Kota-Kota Pantai Jawa” yang dimuat dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, Gereja Blenduk disebut sebagai salah satu contoh penting arsitektur kolonial yang masih utuh. Bangunan ini merepresentasikan perkembangan kota pelabuhan Semarang pada abad ke-18.

Komunitas Protestan Eropa pertama kali mendirikan gereja ini pada tahun 1753. Penelitian Johannes Widodo dalam Journal of Southeast Asian Architecture mencatat Gereja Blenduk sebagai gereja Protestan tertua di Jawa Tengah yang masih difungsikan hingga kini.

Nama resmi gereja ini adalah GPIB Immanuel Semarang. Namun, masyarakat lebih mengenalnya sebagai Gereja Blenduk, yang merujuk pada bentuk kubahnya yang menonjol dan membulat.

Kubah besar berwarna tembaga menjadi ciri khas bangunan yang langsung menarik perhatian pengunjung. Menurut Budi Prasetyo dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha Universitas Diponegoro, gaya arsitektur neoklasik pada Gereja Blenduk memperkuat kesan monumental kawasan Kota Lama Semarang.

Gereja Blenduk berlokasi di Jalan Letjen Suprapto 32, kawasan Tanjung Mas, Semarang Utara. Meski berada di pusat kawasan wisata Kota Lama, gereja ini tetap aktif digunakan sebagai tempat peribadatan umat Kristen Protestan.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Gereja Blenduk juga menjadi destinasi wisata sejarah. Banyak pengunjung datang untuk mempelajari perkembangan Kota Semarang melalui bangunan kolonial yang masih terawat.

Upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah dan pengelola kawasan Kota Lama. Gereja Blenduk pun tetap berdiri sebagai lambang harmoni, toleransi, dan keberlanjutan sejarah di tengah dinamika pembangunan kota modern. (Ilma Shoofi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....