Laksamana Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong
- 22 Jan 2026 16:03 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, SEMARANG – Di balik Klenteng Sam Poo Kong, ada satu nama yang melekat bersamanya, Cheng Ho. Cheng Ho atau Laksamana Cheng Ho merupakan tokoh yang berperan penting dalam sejarah Kota Semarang.
Ia lahir sebagai seorang muslim Hui pada 1371 M di Yunnan dengan nama Ma He atau Ma San Bao. Ketika pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunnan, Ma He ditangkap dan dijadikan sebagai kasim.
Ma He dikebiri di Kunming dan dijadikan sebagai kasim di rumah Zhu Di. Sejak itu, ia memanfaatkan segala fasilitas yang ada untuk membaca dan bertempur bersama Zhu Di.
Tumbuh di lingkungan yang baik menajamkan otaknya tidak hanya digunakan dalam hal akademis saja, tetapi juga dalam pertempuran. Hal ini tidak terlepas dari peran Zhu Di, tidak heran bilamana Ma He menjadi orang yang setia terhadapnya.
Dalam upaya penggulingan kaisar Zhu Yuwen pada 1339, Ma He merupakan orang yang bertempur di samping Zhu Di. Berkat jasanya, Zhu Di menganugerahkan nama “Cheng” kepada Ma He, sejak itu namanya berubah menjadi Cheng Ho.
Pada 1405 muncul titah melakukan pelayaran mengunjungi negara tetangga untuk mempererat hubungan bernegara. Pelayaran ini tidak bertujuan untuk ekspansi, tetapi untuk menyebarluaskan pengaruh politik mereka di Asia maupun Afrika.
Meski tidak bertujuan untuk ekspansi, armada yang dipimpin oleh Cheng Ho tetap dilengkapi dengan senjata dan pasukan. Tujuannya adalah untuk membela diri karena pada masa itu masih sering muncul bajak laut.
Armada Cheng Ho terdiri dari 27.000 anak buah kapal dan 307 kapal laut yang terdiri dari kapal besar dan kecil. Selama berlayar mereka membawa perbekalan dan suku cadang dari Tiongkok.
Ketika melewati Laut Jawa pada 1416, ada seorang awak kapalnya, Wang Jing Hong sang pengemudi kapal, mendadak sakit. Cheng Ho memerintahkan agar membuang sauh di Pantai Simongan Desa Mangkang di Semarang Barat.
Mereka menjadikan sebuah gua kecil yang ada di daerah Simongan sebagai tempat tinggal sementara bagi Cheng Ho dan pengikutnya. Setelah pulih dari sakit Wang Jing Hong memutuskan untuk tetap tinggal dan membuat tempat pemujaan Cheng Ho.
Tujuan dibuatnya tempat pemujaan untuk penghormatan atas keberhasilan Cheng Ho menjadikan daerah sekitar gua menjadi berkembang dan makmur. Yuanzhi dalam Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara mengatakan bahwa Cheng Ho juga melakukan islamisasi.
Pada 1704 tempat pemujaan itu runtuh. Supaya jejak Cheng Ho tidak hilang, gua itu dibangun ulang bersamaan dengan kelenteng dengan nama Sam Poo Kong.
Nama Sam Poo Kong digunakan sebagai upaya mengenang Cheng Ho yang bernama asli Ma San Bao. Sam Poo Kong atau San Bao Dong (bahasa Mandarin), dalam dialek Hokkian memiliki arti Gua San Bao.
Laksamana Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi selama kurang lebih 20 tahun ke berbagai tempat di Asia sampai Afrika. Ia membawa banyak hadiah dan lebih dari 30 utusan kerajaan ke Tiongkok.
Laksamana Cheng Ho meninggal pada April 1433 di Kalkuta, India. Ada yang menyebutkan ia dimakamkan di Nanjing, China dan ada yang meyakini pula ia “dikuburkan” di lautan. (Wohingati)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....