Kebakaran TPA Jatibarang, Kerugian Tidak Berhenti saat Api Padam

  • 05 Okt 2026 10:58 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID Semarang - Kebakaran Tempat Pembaungan Akhir (TPA) Jatibarang Kota Semarang kembali mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan sekadar urusan membuang dan mengangkut. Ketika timbunan sampah terbakar, kerugiannya tidak berhenti pada lahan yang terdampak atau biaya pemadaman, tetapi meluas pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampaknya terhadap masyarakat. Data terbaru BPBD Kota Semarang mencatat 22 warga mengalami batuk dan sesak napas akibat paparan asap. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah selama asap dan titik api belum sepenuhnya hilang.

Dari sisi kualitas udara, persoalannya juga tidak sederhana. Pengukuran Dinas Kesehatan Kota Semarang menemukan kadar sulfur dioksida atau SO2 melampaui baku mutu di sejumlah titik terdampak. Asap kebakaran TPA juga membawa partikulat halus yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.

Namun setelah api benar-benar padam, pekerjaan pemerintah belum selesai. Kebakaran TPA Jatibarang terjadi berulang dan kali ini kembali menunjukkan adanya persoalan pada sistem pengamanan timbunan sampah. Evaluasi harus menjawab mengapa kebakaran mudah muncul, bagaimana sistem deteksi dan pemadaman dini bekerja, serta apakah infrastruktur pengendalian kebakaran sudah memadai.

Lebih jauh lagi, persoalan harus ditarik ke hulunya. Semakin besar volume sampah yang berakhir di TPA, semakin besar pula beban dan risiko yang ditanggung. Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan pengolahan sampah harus diperkuat, bukan hanya menjadi slogan.

Kebakaran Jatibarang menjadi peringatan bahwa biaya buruknya pengelolaan sampah pada akhirnya dibayar masyarakat. Dibayar melalui anggaran penanganan, terganggunya aktivitas, kualitas udara yang menurun, bahkan ketika kesehatan warga mulai terdampak.

Karena itu, pemadaman memang harus dituntaskan. Tetapi yang lebih penting, jangan sampai setelah asap menghilang, persoalan yang sama kembali dilupakan. Semarang membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya mampu menampung sampah, tetapi juga mampu mencegah timbulnya bencana dan melindungi kesehatan warganya.

( Editorial RRI Semarang )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....