Salat Dhuha dan Misteri Stem Cell Autologus dalam Mihrab Sufistik
- 03 Jul 2026 15:47 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Di bawah panji maqam makrifat kedokteran masa depan, tubuh manusia sejatinya bukanlah sekadar susunan anatomi yang profan, melainkan sebuah lembaran mushaf semesta (kauniyah) yang ditulis dengan tinta rahasia ilahi. Sebagai seorang dokter spesialis bedah yang saban hari menembus tirai kulit dan daging manusia, saya kian disadarkan bahwa setiap sayatan pisau bedah adalah sebuah perjalanan spiritual menelusuri tanda-tanda kebesaran-Nya.
Di dalam ruang operasi dan laboratorium molekuler, sains dan tasawuf tidak lagi saling berhadapan, melainkan bersujud bersama di hadapan keagungan Sang Khaliq. Hakikat inilah yang membawa saya pada dua perjuangan besar yang sejatinya bersumber dari satu muara spiritual yang sama: pembuktian gerakan Shalat Dhuha sebagai intervensi psikoneuroreligius terukur, dan perjuangan legalisasi serta aplikasi terapi stem cell autologus (sel punca asli dari tubuh pasien sendiri) di Indonesia.
Keduanya adalah jalan pulang menuju fitrah—sebuah ikhtiar sufistik untuk mengembalikan jiwa dan sel tubuh pada kesucian asalnya. Ketika kita menguliti makna Shalat Dhuha melalui pisau analisis tasawuf, kita sedang membicarakan tentang maqam kepasrahan total di siang hari.
Di saat manusia sedang mabuk oleh fana dan fatamorgana duniawi di antara pukul delapan hingga sebelas siang, Shalat Dhuha hadir sebagai panggilan taubat ekologis bagi tubuh. Sumpah Allah demi waktu Dhuha dalam Al-Qur'an Surat Ad-Duha bukan sekadar penanda jam, melainkan sebuah momentum di mana Nur Ilahi sedang memancar kuat untuk mereduksi entropi dan kekacauan batin manusia.
Saat seorang hamba—terutama mereka yang diuji dengan keterbatasan fisik seperti tuna daksa—melakukan gerakan ruku’ dan sujud yang tumakninah, mereka sedang melakukan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sekaligus tazkiyatul jasad (penyucian tubuh). Melalui penekanan tujuh titik tumpu saat sujud, ego kemanusiaan dihancurkan ke bumi, sementara sirkuit biologis di otak mengalami down-regulasi kortisol dan up-regulasi oksitosin endogen.
Secara sufistik, ini adalah manifestasi dari Al-Ihsan bin-Nafs, bentuk welas asih tertinggi (self-compassion). Manusia berhenti menghakimi ciptaan Allah pada dirinya, bersyukur atas 360 persendian yang tersisa sesuai Hadits Riwayat Muslim, dan menerima takdir biologisnya dengan ketenangan jiwa yang muthmainnah.
Menariknya, misteri penyembuhan spiritual melalui gerakan Salat Dhuha ini beresonansi secara sempurna dengan hakikat penciptaan stem cell autologus di dalam tubuh kita. Apa itu stem cell autologus jika kita teropong dengan kacamata tasawuf?
Ia adalah personifikasi dari sifat Al-Hayyu (Yang Maha Hidup) dan Al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan) yang dititipkan Allah di dalam sumsum tulang dan jaringan lemak kita sendiri. Sel punca autologus adalah sel murni yang belum ternoda oleh diferensiasi fungsional; ia adalah sel yang berada dalam kondisi fitrah primordialnya.
Ketika tubuh mengalami kerusakan, keausan, atau penyakit, sel-sel punca ini bertindak sebagai pasukan gaib yang siap ber-wijhah, bermigrasi (homing), dan bertransformasi untuk menyembuhkan bagian tubuh yang rusak. Allah tidak menitipkan obat kesembuhan kita pada zat asing dari luar, melainkan telah menanamkan "biji makrifat penyembuh" itu di dalam diri kita sendiri sejak ditiupkannya ruh di dalam rahim. Ini adalah bukti nyata dari ayat Wafi anfusikum afala tubsirun—dan di dalam dirimu sendiri, mengapa kamu tidak memperhatikan?
Maka, perjuangan yang sedang saya deru-tidungkan untuk memasyarakatkan stem cell autologus di Indonesia—seperti metode minimal manipulasi sumsum tulang (bone marrow fresh cocktail minimal manipulation)—sejatinya adalah sebuah gerakan sosiomedis yang sarat nilai tasawuf. Terapi autologus mengajarkan kita tentang kemandirian batin dan ketauhidan medis: bahwa kesembuhanmu ada di dalam dirimu, bersumber dari keridhaan Penciptamu, bukan dari ketergantungan obat-obatan kimiawi sintetik luar yang kapitalistik.
Ketika kita mengombinasikan ketepatan waktu gerakan Salat Dhuha di siang hari dengan terapi stem cell autologus, kita sedang melakukan akselerasi rejuvenasi (peremajaan) multidimensi. Gerakan Salat Dhuha secara mekanis dan piezoelektrisitas merangsang osilasi medan listrik selular dan pelepasan sitokin anti-inflamasi (IL-6 dan TNF-alpha), yang menjadi lingkungan mikro (microenvironment) yang sangat subur bagi stem cell autologus untuk bekerja meregenerasi jaringan tubuh yang rusak.
Inilah kedokteran masa depan yang sedang kita bangun bersama PREDIGTI dan RSI Sultan Agung: sebuah ekosistem kesehatan yang menyatukan sains digital presisi dengan kedalaman rasa ihsan. Ketika kebijakan Shalat Dhuha dicanangkan di berbagai instansi—mulai dari rumah sakit, TNI, Polri, hingga lembaga peradilan—kita sedang melakukan cleansing (pembersihan) massal terhadap stres selular bangsa ini.
Ketika teknologi stem cell autologus dilegalkan dan diproduksi secara mandiri di dalam negeri, kita sedang menegakkan kedaulatan bangsa berbasis fitrah penciptaan manusia. Pada akhirnya, selembar sajadah di waktu Dhuha dan sebuah cawan laboratorium stem cell adalah dua buah mihrab yang sama.
Keduanya menjadi saksi bahwa penyembuhan sejati adalah proses kembalinya sang hamba pada asal-muasal penciptaannya yang suci. Di bawah naungan matahari Dhuha, mari kita ketuk pintu langit dengan sujud fisik yang terukur, sembari mengalirkan berkah sel-sel punca fitrah di dalam tubuh, demi menjemput kesembuhan yang paripurna dan keagungan jiwa Indonesia yang seutuhnya.
Oleh: DR. dr. H. Agus Ujianto, M.Si. Med., Sp.B., FISQUA (Ketua Umum Pengurus Pusat PREDIGTI / Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....