Psikolog Nilai Tawuran Remaja Tak Bisa Diselesaikan Hanya dengan Pendekatan
- 31 Mei 2026 13:01 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID., Semarang-Tawuran remaja di Jawa Tengah dinilai tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan hukuman semata. Penanganan yang bersifat represif seperti razia maupun penangkapan dinilai belum menyentuh akar persoalan yang membuat remaja terlibat dalam aksi kekerasan kelompok.
Psikolog Universitas Semarang, Yudi Kurniawan mengatakan, remaja memiliki kebutuhan besar untuk diakui dan diterima oleh kelompok sebaya. Kondisi tersebut membuat mereka rentan terpengaruh ajakan kelompok, termasuk tawuran antar pelajar.
"Seperti menyiramkan bensin ke api ya, jadi langsung gampang banget tuh untuk menjadi besar seperti itu. Ditambah lagi memang remaja nya kan secara kognitif juga masih belum begitu matang ya, sehingga analisis risiko, analisis dampaknya itu mereka juga tidak tidak sampai ke sana brfikirnya," ujarnya.
Menurutnya, ketika remaja tidak mendapatkan ruang pengakuan yang sehat di rumah maupun sekolah, mereka cenderung mencari identitas melalui geng atau komunitas tertentu. Dalam situasi tersebut, rasa bangga terhadap kelompok dapat berkembang menjadi perilaku agresif.
Ia menilai, hukuman keras saja justru berpotensi menjadi kebanggaan baru bagi sebagian kelompok remaja. Karena itu, penanganan tawuran perlu dilakukan secara menyeluruh mulai dari keluarga, sekolah hingga pemerintah daerah.
Keluarga memiliki peran penting dalam membangun komunikasi dan kedekatan dengan anak. Orang tua dinilai perlu menjadi pendengar dan sahabat bagi remaja agar anak tidak mencari pengakuan di lingkungan yang negatif.
"Jadi memang di fase remaja itu kan kebutuhan untuk rekognisi ya atau diterima itu kan sangat besar ya.Makanya bagi remaja terutama, diterima oleh teman sebaya, lingkungan ya itu menjadi sangat besar sekali kebutuhannya dan memang sebenarnya sumber pertama harusnya memang di rumah ya, dari orang tua, dari keluarga begitu," jelasnya.
Selain keluarga, sekolah juga diharapkan menyediakan ruang penyaluran energi dan kreativitas remaja melalui kegiatan positif seperti olahraga, seni maupun pengembangan minat bakat. Pendekatan dialog dinilai lebih efektif dibanding sekadar hukuman disiplin.
Yudi menambahkan, media sosial saat ini juga menjadi faktor yang mempercepat provokasi tawuran antar kelompok remaja. Karena itu, literasi digital serta pengawasan dari orang tua dan lingkungan dinilai penting untuk menekan kasus tawuran di kalangan pelajar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....