Kedelai Mahal, Rakyat yang Menanggung
- 10 Apr 2026 06:18 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Lonjakan harga kedelai bukan sekadar isu komoditas, tetapi alarm keras bagi ketahanan pangan nasional. Dalam beberapa pekan terakhir, harga kedelai menembus hingga 13 ribu rupiah per kilogram. Hal ini dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global.
Masalahnya,..bukan hanya harga naik, tetapi struktur ketergantungan kita yang rapuh. Indonesia masih sangat bergantung pada impor kedelai, terutama dari Amerika Serikat. Ketika konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga energi dan logistik global, efek dominonya langsung terasa hingga ke dapur-dapur rakyat.
Dampaknya brutal di level bawah. Perajin tahu dan tempe yang selama ini menjadi tulang punggung protein murah masyarakat dipaksa mengambil keputusan sulit, mengurangi produksi hingga 30 persen, mengecilkan ukuran, atau menaikkan harga. Kombinasi ini menciptakan lingkaran berbahaya: produksi turun, harga naik, konsumsi melemah.
Kalau situasi ini dibiarkan, dampaknya bukan hanya ekonomi, tapi sosial. Tempe dan tahu adalah “penyelamat” gizi masyarakat menengah ke bawah. Ketika akses terhadap protein murah terganggu, risiko stunting, penurunan kualitas konsumsi, hingga tekanan sosial akan ikut meningkat.
Di titik ini, pendekatan reaktif jelas tidak cukup. Pemerintah tidak bisa hanya meminta importir menahan harga. Itu solusi dangkal untuk masalah struktural. Langkah strategis perlu segera ditempuh dan ini bukan pilihan, tapi keharusan.
Jangan salah membaca situasi ini sebagai kenaikan harga biasa. Ini adalah sinyal bahwa fondasi pangan kita belum kokoh. Dan kalau negara terus menunda pembenahan, setiap konflik global akan selalu berakhir sama, rakyat kecil yang membayar harga paling mahal.
( Editorial RRI Semarang)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....