Lebaran Tanpa Petasan, Ujian Nyata Kedewasaan Sosial Kita
- 20 Mar 2026 08:02 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Ramadan seharusnya menjadi ruang jeda, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga dari kebisingan, emosi, dan kebiasaan yang tak lagi relevan. Namun setiap tahun, kita masih dihadapkan pada fenomena yang sama: petasan.
Suara ledakannya mungkin dianggap meriah, tapi dampaknya jauh dari nilai-nilai Ramadan. Anggapan bahwa petasan sebagai bagian dari tradisi Ramadan adalah asumsi yang lemah. Tidak ada nilai ibadah di sana, tidak ada kontribusi pada ketenangan, justru sebaliknya, ia mengganggu.
Anak-anak terpapar risiko cedera, warga resah, dan tidak sedikit kejadian kebakaran yang berawal dari percikan kecil yang dianggap sepele. Masalah utamanya bukan pada petasannya saja, tapi pada sikap permisif kita. Kita sering tahu itu berbahaya, tapi tetap membiarkan. Kita sadar itu mengganggu, tapi memilih diam. Ini bentuk inkonsistensi sosial yang terus dipelihara.
Padahal, kalau kita bicara Ramadan, esensinya jelas: pengendalian diri. Artinya, bukan hanya menahan makan dan minum, tapi juga menahan dorongan untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Petasan justru mencerminkan kebalikannya, impulsif, boros, dan berisiko.
Lebaran pun seharusnya menjadi puncak kedamaian. Momen saling memaafkan, berkumpul dengan keluarga, dan merasakan kemenangan batin. Tapi bagaimana mungkin kita bicara damai jika lingkungan justru dipenuhi suara ledakan yang memicu kecemasan?
Di titik ini, kita perlu tegas menentukan arah. Jika ingin Ramadan dan Lebaran yang lebih berkualitas, maka petasan harus ditinggalkan. Bukan sekadar dilarang, tapi disadari sebagai kebiasaan yang tidak lagi layak dipertahankan.
Peran orang tua menjadi kunci. Jangan lagi memberi toleransi dengan alasan “sekadar hiburan”. Justru di sinilah pendidikan nilai dimulai. Ajarkan bahwa kebahagiaan tidak harus berisik, dan perayaan tidak harus berbahaya.
Pemerintah dan aparat juga harus konsisten. Penertiban tidak boleh hanya muncul sesaat lalu hilang. Sementara media dan tokoh masyarakat perlu terus mengedukasi, bukan hanya bereaksi setelah ada korban.
( Editorial RRI Semarang)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....