Saat Mudik Balik Lebaran Dihadang Macet dan Banjir
- 03 Mar 2026 14:59 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Arus mudik dan balik Lebaran 2026 kembali menjadi ujian besar bagi sistem transportasi dan manajemen kebencanaan nasional. Tradisi tahunan ini bukan sekadar perpindahan jutaan orang dari kota ke kampung halaman, melainkan juga momentum yang menguji kesiapan infrastruktur, koordinasi lintas lembaga, serta kepatuhan masyarakat terhadap aturan lalu lintas dan keselamatan.
Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memprediksi lonjakan pergerakan masyarakat tetap tinggi, seiring membaiknya mobilitas ekonomi.
Sementara itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia menyiapkan Operasi Ketupat untuk mengurai kepadatan dan menjaga keamanan jalur mudik. Namun, persoalan klasik masih membayangi, kemacetan parah dan ancaman banjir di sejumlah titik krusial.
Lebaran 2026 yang berdekatan dengan periode cuaca ekstrem meningkatkan risiko banjir di beberapa wilayah, terutama kawasan pesisir dan dataran rendah seperti Semarang dan sebagian titik di jalur Pantura.
Mudik adalah tradisi yang sarat makna kebersamaan. Namun, tanpa perencanaan matang dan partisipasi semua pihak, euforia Lebaran bisa berubah menjadi kelelahan massal di tengah kemacetan dan ancaman bencana.
Lebaran yang aman dan nyaman bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga cerminan kedewasaan kolektif masyarakat dalam berlalu lintas dan menjaga lingkungan. Jika persoalan kemacetan dan banjir ditangani secara sistemik, arus mudik dan balik 2026 dapat menjadi momentum pembuktian bahwa tradisi besar bangsa ini bisa dikelola dengan tertib, aman, dan manusiawi
( Editorial RRI Semarang)