Menguji Nasionalisme di Balik Beasiswa LPDP
- 26 Feb 2026 09:34 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID Semarang - Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bukan sekadar bantuan finansial bagi individu cerdas. Ia adalah investasi strategis bangsa.
Ketika seorang penerima beasiswa memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia atau bahkan melontarkan narasi yang merendahkan kewarganegaraan sendiri, hal ini bukan lagi sekadar urusan pribadi. Ini menjadi sebuah pelanggaran etika publik dan kontra sosial.
Penting untuk diingat, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk menyekolahkan putra-putri terbaik bangsa berasal dari Dana Abadi Pendidikan. Akarnya adalah pajak rakyat Indonesia.
Ketika muncul fenomena alumni yang memamerkan paspor asing atau enggan pulang dengan alasan "kenyamanan hidup", muncul luka kolektif di hati masyarakat. Sikap ini menunjukkan adanya defisit nasionalisme dan hilangnya rasa tanggung jawab terhadap negara yang telah mengangkat derajatnya.
Tidak kita pungkiri, setiap manusia memiliki hak untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, hak tersebut menjadi terbatas ketika ada kontrak hukum yang telah ditandatangani.
Jika alumni merasa lebih nyaman tinggal di luar negeri, maka ia sah untuk melakukannya. Dengan catatan, ia telah memenuhi kewajiban pengabdiannya untuk bangsa dan negara.
Menikmati fasilitas beasiswa tanpa mau menanggung kewajibannya adalah bentuk parasitisme intelektual. Membangun bangsa tidak cukup dengan kepandaian maupun kepintaran semata, tetapi juga butuh hati yang terpanggil.
Sudah saatnya bagi LPDP untuk memastikan investasi besar ini kembali kepada pemilik sahnya, yaitu rakyat Indonesia.
(Editorial RRI Semarang)