Nisfu Sya’ban, Cahaya Doa di Tengah Isu Blackout Nasional
- 03 Feb 2026 09:23 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Nisfu Sya’ban 1447 H yang jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026, menjadi momentum istimewa bagi umat Islam di Indonesia. Di tengah isu blackout nasional yang memicu keresahan publik, Nisfu Sya’ban hadir sebagai pengingat akan pentingnya ketenangan batin dan doa.
Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Susilo Surahman, mengatakan Nisfu Sya’ban mengajarkan manusia agar tidak hanya bergantung pada teknologi. Menurutnya, kekuatan spiritual juga menjadi penopang penting dalam kehidupan berbangsa.
Malam Nisfu Sya’ban dikenal sebagai malam penuh ampunan dan permohonan kepada Allah. Momentum ini mengajak umat untuk sejenak berhenti dari hiruk pikuk kehidupan modern dan melakukan refleksi diri.
"Doa bersama menjadi simbol bahwa bangsa ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kekuatan spiritual yang menyatukan hati," katanya, Selasa, 3 Februari 2026.
Tahun ini, peringatan Nisfu Sya’ban bersinggungan dengan kekhawatiran masyarakat akibat isu padamnya listrik secara nasional. Informasi tersebut ramai diperbincangkan dan menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Kekhawatiran tersebut muncul karena dampak blackout dinilai dapat meluas ke berbagai sektor. Mulai dari ekonomi, komunikasi, hingga aktivitas harian masyarakat.
Dalam situasi tersebut, Nisfu Sya’ban menemukan relevansi spiritualnya. Malam doa ini diharapkan menjadi cahaya penenang di tengah gelapnya kepanikan dan ketidakpastian.
Doa tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan. Lebih dari itu, doa menjadi energi batin yang menenangkan, menguatkan, serta menumbuhkan harapan di tengah keresahan.
Momentum Nisfu Sya’ban juga mengajarkan refleksi sosial bagi masyarakat. Kepanikan seharusnya tidak memicu saling menyalahkan, melainkan memperkuat solidaritas dan kebersamaan.
Seperti halnya doa Nisfu Sya’ban yang dilakukan secara berjamaah, tantangan bangsa pun perlu dihadapi bersama. Kebersamaan menjadi kunci untuk menjaga ketenangan dan kepercayaan publik.
Pemerintah dituntut hadir memberikan kepastian dan informasi yang jelas. Sementara masyarakat diimbau tetap tenang, bijak menyaring informasi, serta tidak terjebak ketakutan berlebihan.
Melalui keseimbangan ikhtiar duniawi dan spiritual, tantangan dapat dihadapi dengan lebih baik. Nisfu Sya’ban mengingatkan bahwa cahaya doa mampu menembus gelapnya keresahan.
“Di tengah isu blackout, mari jadikan malam ini sebagai pengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki kekuatan ganda. Ikhtiar duniawi melalui kebijakan dan teknologi, serta ikhtiar ukhrawi melalui doa dan ibadah,” katanya. (Rel/Put)