Refleksi Kesejahteraan Warga pada Milad Muhammadiyah

  • 19 Nov 2025 05:56 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Milad Muhammadiyah ke-113 kembali hadir sebagai momentum strategis untuk meneguhkan arah gerakan yang telah dirintis para pendiri. Semarak perayaan tahun ini menunjukkan betapa Muhammadiyah tetap hidup, dinamis, dan relevan di tengah perubahan zaman.

Namun di balik euforia tersebut, terdapat kegelisahan mendalam yang perlu direnungkan bersama. Terutama, ketika tema milad tahun ini mengusung pesan kuat: “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.”

Tema ini tidak hanya menegaskan tanggung jawab Muhammadiyah sebagai elemen bangsa, tetapi juga menjadi cermin ke dalam diri sendiri. Sebab, fakta di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara kemajuan amal usaha dengan kesejahteraan sebagian kader, warga, bahkan pegawai Muhammadiyah.

Ketika amal usaha tumbuh megah, sekolah dan universitas berkembang, serta layanan kesehatan semakin luas, tidak serta-merta semua pelaku gerakan merasakan kesejahteraan yang semestinya. Inilah paradoks yang harus dibaca secara jujur.

Gerakan dakwah Muhammadiyah selama ini dikenal mencerahkan, mencerdaskan, menggerakkan, dan menggembirakan. Namun belum semua warga merasakan empat dimensi dakwah tersebut secara utuh.

Banyak kader yang bekerja dalam diam dengan penuh dedikasi, tetapi kehidupan ekonominya masih jauh dari kata sejahtera. Di sinilah ujian moral dan organisatoris Muhammadiyah memasuki abad keduanya: memastikan bahwa para pegiat dakwah tidak hanya menjadi lilin yang menyinari sekitar, tetapi membiarkan dirinya sendiri melebur tanpa pertolongan.

Muhammadiyah tidak boleh menjadi gerakan yang besar secara kelembagaan tetapi menyisakan warga yang lemah secara ekonomi. Penguatan kesejahteraan internal bukanlah tindakan egois, melainkan bagian integral dari misi dakwah.

Kader yang kuat ekonominya akan lebih merdeka dalam berpikir, lebih luas dalam berperan, serta lebih mantap dalam memajukan umat dan bangsa. Sebaliknya, kelemahan ekonomi akan melemahkan daya juang dan kualitas kontribusi.

Memasuki usia 113 tahun, Muhammadiyah perlu mempertegas orientasi ekonomi umat sebagai arus utama gerakan, bukan sekadar program tambahan. Beberapa langkah strategis harus diperkuat, seperti pembentukan ekosistem bisnis Muhammadiyah profesional dan modern, dan peningkatan kesejahteraan pegawai amal usaha secara terstruktur,

Selain itu, perlu penguatan gerakan kewirausahaan kader dan integrasi potensi ekonomi lintas struktur. Kemudian, penguatan budaya ekonomi internal seperti belanja sesama warga dan jaringan bisnis antarkader.

Perlu ada keberanian untuk melakukan reformasi manajemen amal usaha agar lebih efisien dan lebih adil dalam distribusi kesejahteraan. Amal usaha harus menjadi lokomotif yang menarik gerbong kesejahteraan warga, bukan hanya menjadi menara gading yang berdiri sendiri.

Muhammadiyah juga harus menjaga agar budaya ikhlas yang menjadi ciri utama gerakan, tidak menjelma menjadi pembiaran struktural terhadap ketimpangan.Milad ke-113 ini memberikan ruang refleksi penting bagi seluruh komponen Muhammadiyah.

Gerakan besar ini telah memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa. Kini saatnya memastikan kesejahteraan warga Muhammadiyah sendiri mendapatkan perhatian yang lebih serius, lebih sistematis, dan lebih berkeadilan.

Dengan tekad kolektif dan langkah-langkah strategis yang terencana, Muhammadiyah dapat memasuki abad kedua dengan lebih kuat, mandiri, dan berkemajuan.

Hal ini seraya membuktikan bahwa dakwah yang menggembirakan bukan hanya slogan, tetapi realitas yang dirasakan oleh seluruh warganya. Semoga milad ini menjadi awal kebangkitan ekonomi warga Muhammadiyah menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.

Oleh: AM. Jumai (Mantan Kepala Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah)

Rekomendasi Berita