Intelektual Berintegritas Bebaskan Peradaban dari Hedonisme Digital
- 03 Nov 2025 11:15 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Krisis integritas di tengah banjir informasi membuat peradaban tengah menghadapi musuh yang tak kasat mata, yakni distraksi massal dan erosi kebenaran. Kini, sarjana dan profesional sudah saatnya mengakhiri kejahiliyahan sistem dengan mendorong integritas untuk membebaskan peradaban dari jeratan hedonisme digital.
Ketua Umum PP Ikatan Keluarga Alumni(IKA) Universitas Islam Sultan Agung(Unissula), Agus Ujianto mengatakan, krisis ini menjadi ironi karena seringkali diperparah bukan oleh kaum awam, melainkan oleh mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan integritas. Di antaranya seperti sarjana, profesor, dan tokoh masyarakat.
"Kita menyaksikan fenomena solidaritas profesi buta. Otoritas intelektual digunakan untuk menutupi kegagalan masa jabatan, menghalangi akuntabilitas, dan bahkan memanipulasi kebenaran," ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin (3/11/2025).
Di saat yang sama, lanjut dia, masyarakat makin terjerat dalam narasi palsu (hoax) dan gaya hidup konsumtif yang didorong oleh platform digital. "Ini adalah anomali besar yang tidak dapat diselesaikan dengan cara berpikir lama," ujarnya.
Menurutnya, lahirnya kejahiliyahan sistem muncul ketika ilmuwan menolak perubahan banyak institusi, termasuk yang mengatasnamakan agama sebagai perjuangan dengan sistem masa lalu. Mereka merasa nyaman dengan kerangka kerja yang usang dengan sistem administrasi yang kaku, tidak efisien dan melanggengkan praktik nonprofesional.
"Pemuliaan solidaritas buta, kritik etis terhadap rekan seprofesi dianggap tabu, menjebak para profesional dalam zona aman yang tidak akuntabel. Keterikatan paradigma di mana ilmuwan telah menginvestasikan karir pada sistem yang ada, memilih mempertahankan kejahiliyahan sistem daripada menghadapi 'anomali' yang membutuhkan revolusi pemikiran," ucapnya.
Untuk keluar dari stagnasi, kata dia, filosofi Thomas Kuhn menjelaskan tentang Pergeseran Paradigma. Perubahan fundamental tidak terjadi melalui perbaikan kecil (ilmu normal), tetapi melalui krisis total yang memaksa kita mengganti seluruh kerangka berpikir.
Ia menjelaskan perlunya mengenali hoaks, ketidakprofesionalan, dan sistem yang korup sebagai anomali serius yang tidak bisa diatasi dengan perbaikan kosmetik. “Sehingga ,akan mendorong diskursus kritis yang memaksa para profesional dan birokrat mengakui bahwa paradigma lama (solidaritas buta, sistem kaku) telah gagal total," katanya.
Ia menegaskan, membentuk paradigma baru harus berlandaskan integritas profesi, akuntabilitas etis, dan pemahaman konsep religi yang sejati. "Paradigma ini bukan sekadar simbol, melainkan sebagai fondasi etos kerja yang mencerahkan peradaban, bukan merusaknya," ucapnya.
Peradaban yang berkelanjutan di Era Society 5.0 membutuhkan manusia yang sadar kritis. Jika para profesional dan tokoh masyarakat mengutamakan kebohongan dan kepentingan di atas kebenaran, maka mereka akan menjadi produsen hoaks yang paling berbahaya.
"Memahami esensi religi sebagai dorongan untuk akuntabilitas dan integritas dalam setiap jabatan, melawan godaan hedonisme material dan kekuasaan. Masyarakat harus didorong untuk tidak mudah menanggapi hoaks yang didukung oleh tokoh berintegritas rendah, maka literasi kritis adalah imunisasi peradaban,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....