Kontradiksi Filosofis Sumpah Profesi pada Oknum Jahiliyah Ilmiah

  • 29 Okt 2025 09:56 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Sumpah Profesi adalah sebuah kontrak moral dan etik yang mengikat individu pada nilai-nilai luhur dan standar kompetensi tertinggi. Filosofi utamanya adalah dedikasi pada kebenaran, keadilan, integritas, dan pengabdian (sesuai bidangnya, misal: kesehatan, hukum, pendidikan).

Ketika pola pikir jahiliyah mendominasi, filosofi ini secara fundamental dikhianati. Tujuan sumpah ialah melayani publik dan menegakkan kebenaran.

Sementara, aksi jahiliyah melayani kepentingan diri atau kelompok (profesi) secara sempit, bahkan dengan mengorbankan kebenaran. Dampaknya, terjadi diskoneksi total antara janji lisan dan tindakan nyata, meruntuhkan legitimasi individu dan profesi itu sendiri.

Manipulasi Hukum dan Aturan: Senjata Hoax dan Fitnah

Bahkan, sebaik apapun pemimpin institusi dan seideal apapun aturan yang berlaku, pola pikir jahiliyah dalam profesi akan menjadi celah terbesar untuk manipulasi. Dalam manipulasi aturan, individu atau kelompok profesional yang berpikiran Jahiliyah tidak akan ragu memanipulasi interpretasi hukum dan aturan demi menjustifikasi kesalahan atau mencapai tujuan egois.

Penyebaran Hoax dan Fitnah: Untuk menutupi kesalahan yang terlanjur terjadi, alih-alih melakukan introspeksi dan perbaikan, mereka akan menggunakan hoax, misinformasi, dan fitnah untuk:

Mengalihkan perhatian dari pelanggaran substantif.

Mendiskreditkan pihak yang menuntut akuntabilitas (pelapor, korban, atau whistleblower).

Menciptakan narasi pembenaran diri yang menyesatkan publik.

Kemerosotan dalam Keilmuan dan Etika

Perilaku ini tidak hanya merusak etika. Akan tetapi, juga merusak epistemologi (cara kita mengetahui) dan metodologi keilmuan yang seharusnya menjadi benteng utama profesi.

Kebalikan Etika: Prinsip-prinsip etika (kejujuran, transparansi, akuntabilitas) dibolak-balik dengan asumsi primordial profesi (misalnya, kami pasti benar, non-profesional tidak tahu apa-apa).

Pemutarbalikan Keilmuan: Fakta ilmiah, data, atau bukti empiris dapat dimanipulasi atau diabaikan demi membela ego atau kepentingan kelompok. Hal ini adalah bentuk intellectual dishonesty yang paling berbahaya, sebab profesi dibangun di atas fondasi keilmuan yang valid.

Solidaritas Semu dan Pengulangan Kesalahan

Salah satu manifestasi Jahiliyah yang paling kuat adalah solidaritas profesi yang bersifat primordial dan keliru.

Solidaritas sebagai Dalih: Solidaritas etis seharusnya bertujuan untuk menegakkan standar dan membersihkan profesi dari anggotanya yang merusak. Namun, dalam pola pikir Jahiliyah, solidaritas disalahgunakan sebagai tameng kolektif untuk menutupi dan membela kesalahan yang berulang dari sesama anggota.

Siklus Kerusakan: Ketika kesalahan dilindungi alih-alih diperbaiki, mekanisme akuntabilitas gagal total. Hal ini menjamin bahwa kesalahan yang sama akan terus berulang (siklus cover-up \rightarrow pembenaran \rightarrow pengulangan pelanggaran), melemahkan kepercayaan publik dan merusak reputasi institusi secara permanen.

Kesimpulan

Pola pikir Jahiliyah dalam profesi merupakan kanker institusi. Ia menciptakan jurang pemisah antara sumpah yang dijanjikan dan tindakan yang dilakukan.

Ia melumpuhkan upaya pemimpin terbaik melalui sabotase dari dalam, memanipulasi aturan dengan kebohongan, dan merusak fondasi keilmuan dengan egoisme kolektif. Untuk menjaga integritas institusi, penghapusan pola pikir Jahiliyah dan penegakan integritas etis individual harus menjadi prioritas utama, melampaui loyalitas kelompok yang bersifat buta.

*Agus Ujianto, Dirut RSI Sultan Agung Semarang

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....