Musim Dingin Hingga Wasit Wanita, Wajah Baru Piala Dunia 2022

  • 11 Nov 2022 17:19 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang : Menjelang Piala Dunia (20/11/2022 - 18/12/2022), banyak pertanyaan mengenai pelaksanaan liga di musim dingin. Sejak Piala Dunia 1930, pertandingan dilaksanakan pada musim panas, namun setelah Qatar memenangkan hak penyelenggara event, aturan ini berubah.

FIFA memperluas jangkauan yang dulunya didominasi oleh Eropa dan America Latin, meluas ke negara-negara di Asia dan Afrika. Dengan keputusan pada 2010, Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, maka peraturan dan mekanisme dibuat lebih dinamis.

Suhu Jazirah, Arab pada musim panas mencapai 40°C, FIFA tidak dapat terpaku pada waktu pelaksanaan Piala Dunia yang lalu, karena akan berpengaruh pada pertandingan. Wartawan Olahraga Senior, Darjo Soyat mengungkapkan “cuaca ideal di Jazirah untuk event olahraga adalah pada November dan Desember, bersuhu 24°C – 30°C”.

Pada saat bulan pelaksanaan, Liga-Liga yang masih berjalan dapat mempengaruhi fisik, stamina dan psikologis pemain. Meski demikian, pemain kelas dunia dikatakan sedang on fire, mengingat November dan Desember merupakan bulan dengan pertandingan ketat.

Penyelenggaraan Piala Dunia negara islam Qatar, berbeda peraturan karena sedikit lebih ketat, seperti etika selebrasi dan pembatasan perhotelan. Hal tersebut tidak mempengaruhi kemeriahan Piala Dunia karena negara lain juga memiliki aturan masing-masing yang perlu dipatuhi.

Teknologi dalam pertandingan juga dibuat lebih canggih, sehingga dalam membantu wasit dalam meminimalisir kecurangan dan mencermati pelanggaran. Selain itu, sistem Semi Auto Offside akan memudahkan wasit karena langsung mendeteksi pelanggaran dan pelaku pelanggaran.

Bola liga juga dipasang chip, sehingga wasit tahu pelanggaran sekecil apapun serta kemana saja bola itu ‘dibawa’ oleh pemain. Dengan teknologi canggih ini, euforia Piala Dunia 2022 tidak berkurang, penonton maupun pemain tidak akan terganggu meski sistem diperketat.

Piala Dunia 2022 menghadirkan 3 wasit wanita, yaitu Yoshimi Yamashita (Jepang), Stephanie Frappart (Prancis), dan Salima Mukansanga (Ruwanda). Salah satu pekerja swasta, Adit menyatakan “sesuatu yang membanggakan, kita menghargai profesi wasit dengan kesetaraan gender”.

Meski banyak hal dianggap tabu di Qatar, harus kita apresiasi bahwa wanita pertama kali muncul di event terbuka justru di tanah Arab. (Nofa)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....