Miftahul Arief Raih Doktor, PWI Jateng Kini Punya Tujuh Pengurus Lulusan S3
- 03 Okt 2026 06:26 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah kini memiliki tujuh doktor dalam kepengurusan masa bakti 2025-2030. Terakhir, Moh Miftahul Arief, pengurus PWI Jateng Seksi Organisasi, resmi meraih gelar Doktor Studi Islam dari UIN Walisongo Semarang, Rabu 30 September 2026.
Arief mempertahankan disertasi berjudul Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang dipimpin Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. Ia dinyatakan lulus dengan nilai ujian hampir sempurna, 3,98.
Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana mengapresiasi capaian tersebut. Keberhasilan Arief menyelesaikan studi doktoral menjadi capaian tersendiri karena proses akademik itu dijalani di tengah kesibukan aktivitas sebagai wartawan dan pengurus organisasi.
“Alhamdulillah, kami turut senang saudara kami Mas Moh Miftahul Arief bisa meraih gelar doktor. Ini capaian yang luar biasa. Di samping berkutat dengan tulisan-tulisan populer dalam jurnalistik, masih berjuang menyelesaikan narasi-narasi akademik disertasi, dan berhasil mempertahankannya di hadapan majelis penguji,” ujar Iwan, panggilan akrab Ketua PWI Jateng.
Bagi PWI Jateng, capaian tersebut juga menambah jumlah pengurus yang menyandang gelar doktor. Arief menjadi doktor ketujuh dalam kepengurusan PWI Jateng. Sebelumnya ada Dr Agus Fathuddin Yusuf, Dr Sri Syamsiyah, Dr Hery Pamungkas, Dr Agus Triyono, Dr Henri Peluppesy, dan Dr Suparman. Iwan mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan mendapat perhatian di lingkungan PWI Jateng. Ia berharap semakin banyak personel PWI Jateng yang mengikuti jejak Arief dan pengurus lainnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana, baik magister maupun doktoral.
“Ini membuktikan organisasi PWI Jateng diisi pribadi-pribadi yang aware pada pendidikan. Semoga nanti ada personel-personel dari PWI Jateng yang menyusul, mengikuti jejak Mas Arief dan pengurus lainnya,” katanya. Ia juga berharap capaian tersebut semakin memperkuat peran PWI Jawa Tengah. “Semoga PWI makin bagus peran dan eksistensinya,” ujarnya.
Capaian Arief juga mendapat apresiasi dari lingkungan akademik UIN Walisongo Semarang. Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., menilai Arief sebagai sosok yang konsisten menjadikan aktivitasnya sebagai bagian dari proses belajar.
“Dr. Arief adalah seorang pembelajar sejati. Setiap langkahnya dapat dijadikannya sebagai media belajar. Saya teringat dengan perkataan almarhum Prof. Satjipto Rahardjo bahwa seorang intelektual itu berbicara dengan pena. Dr. Arief benar-benar mempraktikkan hal ini,” ujar Prof. Muhyar.
“Kemampuan menulisnya di atas rata-rata mahasiswa kami,” tegasnya. Disertasi Arief mengkaji strategi pemasaran madrasah ibtidaiyah di kawasan perkotaan melalui penelitian multisitus di MI Nurul Islam Ngaliyan, MI Tarbiyatul Khairat Pedurungan, MI Taufiqiyah Tembalang, dan MI Nashrul Fajar Tembalang.
Penelitian tersebut menemukan bahwa orang tua di kawasan perkotaan tidak memilih madrasah hanya berdasarkan faktor agama atau kedekatan lokasi. Mutu pendidikan, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga turut menjadi pertimbangan. “Saya menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya karena faktor agama atau kedekatan lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga,” jelas Arief.
Dalam penelitian tersebut, Arief menggunakan pendekatan Segmentation, Targeting, Positioning (STP), dan bauran pemasaran 7P. Ia juga menawarkan Urban-Spiritual Resonance Model dengan empat tipologi pemasaran, yakni Professional-Premium, Balanced-Moderate, Achievement-Inclusive, dan Grassroots-Authentic. Menurut Arief, setiap madrasah memiliki karakter dan kekuatan yang berbeda sehingga strategi pemasaran tidak harus dibuat seragam.
“Setiap madrasah tidak harus menjadi sama. Mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter masyarakat, lingkungan, dan kekuatan yang dimiliki masing-masing,” tegasnya. Ia menambahkan, keberhasilan pemasaran madrasah tidak semata-mata ditentukan oleh intensitas promosi.
.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....