Suhu Semarang Tembus 37 Derajat, Warga Diminta Waspadai Dehidrasi dan Heat Stroke

  • 01 Okt 2026 15:27 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Suhu udara di Kota Semarang yang menembus lebih dari 37 derajat Celsius berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama dehidrasi dan heat stroke. Pengamat Kesehatan Ari Udijono mengingatkan masyarakat untuk memastikan kecukupan cairan dan membatasi paparan panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Paparan panas secara terus-menerus membuat penguapan tubuh meningkat sehingga cairan lebih cepat berkurang. Jika tidak segera diimbangi dengan asupan cairan yang cukup, kondisi tersebut dapat menyebabkan dehidrasi dan dalam paparan yang berlangsung lama memicu heat stroke atau sengatan panas.

“Yang pasti orang yang terpapar panas akan mengalami dehidrasi karena penguapannya. Kemudian adanya heat stroke, yang menimpa tubuh kita,” katanya, Kamis 1 Oktober 2026.

Karena itu, Ari menegaskan hidrasi menjadi hal yang paling penting ketika masyarakat harus beraktivitas di tengah cuaca panas. Warga diingatkan tidak sampai mengalami kekurangan cairan akibat terlalu lama berada di luar ruangan.

“Yang jelas hidrasi itu yang paling berat. Jadi jangan sampai nanti kita kekurangan cairan” katanya.

Bagi masyarakat yang harus bekerja di luar ruangan dan tidak dapat menghindari paparan panas, Ari mengatakan kondisi tersebut memang sulit dihindari. Karena itu, perlindungan tubuh tetap diperlukan, salah satunya dengan menggunakan pakaian yang cukup rapat untuk membantu melindungi tubuh dari paparan panas.

Selain perlindungan tubuh, kebutuhan cairan juga harus tetap terpenuhi. Air minum, terutama air putih, dinilai penting untuk membantu proses rehidrasi tubuh setelah terpapar panas dalam waktu cukup lama.

“Air minum itu, apapun jenis minumannya, terutama air putih ya. Itu sangat bagus untuk bisa melakukan rehidrasi pada tubuh kita yang sudah tersengat oleh sengatan panas yang cukup lama,” jelasnya.

Ari juga menyarankan masyarakat yang melakukan rehidrasi sebisa mungkin tidak berada di tempat yang terpapar panas secara terbuka. Jika memungkinkan, warga dapat mencari tempat seperti area yang memiliki rumpun pepohonan atau taman karena anginnya dinilai cukup baik dan oksigennya juga cukup tinggi.

Selain dehidrasi dan heat stroke, masyarakat juga perlu mewaspadai gangguan kesehatan lain, termasuk ISPA atau infeksi saluran pernapasan. Ari menyebut kondisi lingkungan dan tingginya keberadaan nyamuk juga perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan kesehatan tubuh.

Ia juga meminta masyarakat memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi, terutama saat membeli makanan atau jajan di luar rumah karena kualitas makanan yang dikonsumsi tidak selalu diketahui.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....