Pembacaan Puisi di Stasiun Tawang Hadirkan Cerita di Ruang Bersejarah

  • 30 Sep 2026 10:13 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang: Stasiun Semarang Tawang yang dibangun sejak 1914 kini menjadi ruang pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert. Kegiatan pada Senin 28 September 2026 tersebut mempertemukan sejarah stasiun, perjalanan masyarakat, dan ekspresi sastra dalam rangkaian Semarak HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 4 Semarang.

Pembacaan puisi menghadirkan sastrawan dan akademisi Universitas Diponegoro Triyanto Triwikromo serta dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang, sastrawati sekaligus peneliti Ucik Fuadhiyah. Keduanya menghadirkan perspektif sastra di tengah ruang yang selama lebih dari satu abad menjadi bagian dari perjalanan masyarakat di Kota Semarang.

Pemilihan Stasiun Semarang Tawang sebagai lokasi kegiatan berkaitan dengan perjalanan panjang bangunan tersebut. Hingga kini, stasiun yang dibangun pada 1914 itu masih menjalankan fungsi pelayanan perjalanan kereta api sekaligus menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kota Semarang.

Setiap hari, ruang Stasiun Tawang menjadi tempat berlangsungnya berbagai aktivitas perjalanan. Pelanggan datang dan berangkat, kereta tiba dan meninggalkan peron, sementara pertemuan serta perpisahan menjadi bagian dari keseharian di stasiun tersebut.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Semarak HUT ke-81 KAI Daop 4 Semarang. Melalui kegiatan ini, perjalanan kereta api dilihat dari perspektif yang lebih luas melalui karya yang merekam pengalaman manusia, perjalanan, ruang, serta perubahan yang berlangsung dari waktu ke waktu.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif mengatakan, kehadiran pembacaan puisi menjadi salah satu cara KAI menghadirkan perayaan HUT ke-81 melalui pendekatan sejarah dan budaya.

“Stasiun Tawang memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Di tempat ini, perjalanan kereta api bertemu dengan berbagai cerita manusia. Melalui pembacaan puisi, kami ingin menghadirkan perspektif lain bahwa stasiun juga dapat menjadi ruang untuk menikmati karya sastra dan melihat kembali perjalanan dari sisi budaya,” ujar Luqman.

Menurut Luqman, pemanfaatan ruang stasiun sebagai tempat pembacaan puisi juga menunjukkan bahwa ruang publik dapat mempertemukan berbagai bentuk aktivitas masyarakat.

“Kereta api membawa masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, sementara sastra merekam pengalaman dan cerita manusia. Pertemuan keduanya di Stasiun Tawang menjadi bagian dari cara kami merayakan HUT ke-81 KAI dengan menghadirkan sejarah, perjalanan, dan budaya dalam satu ruang,” katanya.

Stasiun Semarang Tawang telah melewati berbagai perkembangan perjalanan kereta api dan perubahan Kota Semarang sejak dibangun pada 1914, namun tetap menjalankan fungsinya hingga saat ini. Melalui pembacaan “Di Stasiun Tawang”, KAI Daop 4 Semarang menghadirkan sastra di tengah ruang perjalanan masyarakat.

“Perjalanan kereta api selalu memiliki cerita. Ada tempat, ada waktu, dan ada manusia di dalamnya. Melalui sastra, cerita tersebut dapat dilihat dari perspektif yang berbeda. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman baru bagi masyarakat dalam menikmati Stasiun Tawang sekaligus mengenal nilai sejarah yang melekat di dalamnya,” tutup Luqman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....