ESB Ajak Pengusaha Kuliner Jaga Warisan Multikultural
- 11 Sep 2026 21:33 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Semarang selalu memiliki cara sendiri menyatukan orang lewat makanan, kota ini tumbuh dari persilangan budaya Jawa, Tionghoa, kolonial Belanda, hingga Arab. Co-Founder & CEO ESB Gunawan mengajak pengusaha kuliner menjaga warisan multikulturalnya.
Jejaknya kuliner paling terasa justru di meja makan sehari-hari, mulai dari Lumpia Semarang yang legendaris, Soto Bangkong yang gurih, Lontong Cap Go Meh yang jadi bukti harmoni rasa, sampai Tahu Gimbal yang jadi favorit lintas generasi. "Perpaduan ini bukan sekadar daya tarik wisata, tapi juga penggerak ekonomi kota yang nyata," ujarnya.
Berdasarkan data internal ESB, menemukan pemandangan yang menggambarkan kota ini dengan sangat pas, kuliner yang menjual olahan berbahan dasar non halal bisa berjualan berdampingan, dengan kuliner halal. Dua bisnis dengan segmen pelanggan yang berbeda, hidup rukun di lokasi yang sama, tanpa gesekan.
"Ini bukan sesuatu yang sengaja kami cari, tapi ditemukan begitu saja saat proses mapping merchant di lapangan. Semarang punya toleransi yang sudah mendarah daging, dan itu ikut membentuk bisnis kuliner di sini terus tumbuh menawarkan aneka cita rasa bagi para pecinta kuliner," ungkap Gunawan, Jumat 11 September 2026.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di triwulan II 2026 tumbuh 12,80% secara tahunan atau 2,2 kali lebih cepat dibanding pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah secara keseluruhan yang tercatat 5,71%, bahkan melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,29%.
Pertumbuhan ini turut tercermin dari data internal ESB. Sepanjang Januari-Juli 2026, merchant F&B pengguna ESB di Semarang mencatat pertumbuhan same-store sebesar 8,3% dari sisi transaksi dan 6,6% dari sisi omzet. Angka ini membandingkan performa outlet yang sama dari tahun ke tahun, bukan sekadar penambahan jumlah merchant baru.
"Tidak hanya rasanya yang jujur, transaksi juga tumbuh. tapi yang membuat kami senang itu tumbuhnya di toko-toko yang sama, bukan hanya karena ada merchant baru yang bergabung. Artinya, pelanggan benar-benar datang kembali," katanya.
Di balik geliat kuliner kota Semarang, ada tekanan yang dihadapi hampir semua pebisnis kuliner. Data BPS Jawa Tengah per Agustus 2026 mencatat kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,28%, didorong oleh kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan buncis.
Melihat kondisi ini, Thomas Pangaribuan, Lead Strategist F&B Operations, Co-Founder & Managing Partner GASTRO F&B Consulting, menekankan pentingnya efisiensi internal bagi pelaku usaha F&B. Hal ini agar bisnis bisa scale up dan relevan di tengah dinamika biaya bahan baku, para pebisnis kuliner tidak boleh hanya mengandalkan cita rasa.
"Kontrol atas Cost of Goods Sold (COGS), standardisasi resep untuk menekan risiko food waste, serta efisiensi rantai pasok dapur adalah fondasi agar bisnis kuliner mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan," katanya.
Senada dengan hal tersebut, Tadeo Christoga, Co-founder & COO Sorak Sorai, Panama Canteen dan Babakopitiam membagikan dampaknya langsung dari perspektif pemilik brand lokal. Sebagai pelaku usaha F&B lokal, pihaknya merasakan langsung bagaimana sensitivitas konsumen terhadap harga dan tren kuliner bergerak sangat cepat.
"Kunci konsistensi kami dalam menjaga kualitas serta profitabilitas bisnis adalah dengan cermat membaca data operasional harian. Ketika kita tahu angka HPP dan pergerakan stok secara real-time, kita bisa mengambil keputusan promosi yang tepat tanpa harus merusak margin," ungkap Tadeo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....