Erupsi Anak Krakatau Tidak Pengaruhi Aktivitas Vulkanik Merapi

  • 07 Sep 2026 11:35 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • aktivitas vulkanik Gunung Merapi
  • Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan  Geologi ( BPTKG) DIY,
  • Gunung Anak Krakatau
  • Gunung Merapi
  • Gunung Sinabung
  • Gunung Semeru

RRI.CO.ID.Magelang .Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi dengan tercatat 73 kali gempa guguran dalam 24 jam terakhir. Kondisi tersebut tidak dipengaruhi erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia dalam beberapa hari terakhir, seperti Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur dan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

“Selama 24 jam terakhir dari Minggu 6 September pukul 06.00 WIB hingga Senin 7 September 2026 pukul 06.00 WIB terjadi gempa guguran sebanyak 73 kali. Banyaknya jumlah gempa guguran tersebut menandakan aktivitas vulkanik Gunung Merapi cukup tinggi,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi ( BPTKG) DIY, Agus Budi Santoso, saat dihubungi Senin 7 September 2026.

Agus Budi Santoso mengatakan, meskipun tingkat aktivitas vulkanik Gunung Merapi cukup tinggi, tetapi hingga saat ini masih tergolong aman. Terpantau asap kawah gunung yang mempunyai ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut bertekanan lemah dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi asap mencapai 10 meter dari puncak kawah.

Ia menambahkan, selama 24 jam terakhir terjadi 14 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter dan mengarah ke arah barat daya. Guguran lava tersebut mengarah ke tiga sungai yang berhulu Merapi, yakni Kali Sat, Kali Putih dan Kali Krasak.

“Guguran lava tersebut maih cukup aman, karena masih mengarah ke aliran sungai yang berhulu dari Merapi. Selain itu, guguran lava tersebut masih jauh dari permukiman penduduk,”katanya

Agus Budi juga membenarkan, pada Sabtu 5 September 2026 terjadi hembusan abu vulkanik Merapi di sisi selatan yakni di sekitar kawasan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Namun, hembusan abu vuklkanik tersebut bukan erupsi Merapi,melainkan disebabkan hembusan angin yang kencang dan menyebabkan abu vulkanik yang ada di lereng terbawa angin.

Meskipun hingga kini status kebencanaan Merapi berada di level III atau Siaga sejak 5 November 2020 silam. Masyarakat yang bermukim di lereng Merapi diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius bahaya kurang dari 3 kilometer dari puncak.

Sementara itu, meskipun aktivitas Merapi cukup tinggi tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat di lereng Merapi. Masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa bekerja di ladang, mencari rumput dan lainnya.

“ Masyarakat di sekitar Merapi, hingga saat ini masih tetap beraktivitas seperti biasa, bekerja di ladang , mencari rumput dan lainnya. Masyarakat juga tidak melihat adanya hujan abu di wilayah Kecamatan Srumbung,” kata Munasir , salah satu warga Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Ia menambahkan, meskipun warga beraktivitas seperti biasa, bekerja di ladang dan lainnya, namun tetap waspada. Warga sekitar lereng Merap, juga mempunyai ilmu titen ( kemampuan membaca tanda-tanda alam). Yakni, kapan harus mengungsi bila terjadi bencana, namun tetap mematuhi anjuran dari pemerintah/ (wied)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....