Nasib Petani Pantura, Padi Diserang Hama dan Terancam Gagal Panen

  • 30 Agt 2026 10:29 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Kemarau Sebabkan Petani Pantura Terjepit, Padi Diserang Hama, Harga Melati Anjlok
  • Serangan hama yang berlangsung bertubi-tubi membuat sebagian tanaman tidak mampu bertahan hingga akhirnya mati.

RRI.CO.ID, Pekalongan - Musim kemarau berkepanjangan memukul petani di wilayah Pantura Pekalongan hingga Pemalang, Petani padi harus berjibaku menghadapi serangan hama yang mengancam gagal panen. Di sisi lain, petani melati justru dihadapkan pada persoalan berbeda, produksi meningkat, tetapi harga bunga anjlok.

Kondisi tersebut dirasakan petani padi di Desa Pait, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, tanaman padi yang rata-rata telah berusia sekitar dua bulan banyak yang mengering dan layu setelah diserang wereng cokelat, lembing atau serangga, hingga burung. Kerusakan terlihat hampir di seluruh bagian tanaman, mulai dari daun, batang, hingga akar rumpun padi.

Serangan hama yang berlangsung bertubi-tubi membuat sebagian tanaman tidak mampu bertahan hingga akhirnya mati.

Persoalan tidak berhenti pada kondisi tanaman, Bulir padi yang dihasilkan pun banyak berukuran kecil dan kosong sehingga produktivitas lahan merosot tajam.

Petani Desa Pait, Nuraji, mengatakan serangan hama terjadi cukup luas dan membuat petani kewalahan. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penyemprotan pestisida hingga pengusiran burung secara manual.

“Petani sudah berupaya melakukan penyemprotan pestisida. Untuk burung juga diusir secara manual, termasuk memasang jaring dan orang-orangan sawah. Tetapi hasilnya belum memberikan dampak berarti,” kata Nuraji, Minggu 30 Agustus 2026.

Menurut Nuraji, serangan hama membuat sebagian petani terpaksa menghadapi gagal panen. Sementara petani yang masih bisa memanen pun harus menerima penurunan produksi secara drastis.

Dalam kondisi normal, lahan seperempat bahu mampu menghasilkan sekitar 15 karung gabah. Namun dalam kondisi saat ini, hasilnya diperkirakan hanya tiga hingga empat karung.

“Kalau normal bisa sekitar 15 karung. Sekarang paling hanya tiga sampai empat karung,” ujarnya.

Sementara, Di Kabupaten Pemalang, petani melati menghadapi tekanan dengan pola berbeda. Kemarau justru membuat bunga melati segar tumbuh lebih banyak. Namun, melimpahnya produksi tidak otomatis meningkatkan pendapatan petani.

Sebaliknya, harga bunga melati di tingkat petani justru merosot karena pasokan melimpah tidak diimbangi permintaan.

Petani melati asal Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Tunarsih, mengatakan produksi bunga selama musim kemarau lebih tinggi dibandingkan musim hujan.

“Kalau musim kemarau bunganya lebih banyak. Tetapi karena hasilnya melimpah, harganya justru turun,” kata Tunarsih.

Harga bunga melati segar bahkan dalam beberapa bulan terakhir disebut anjlok hingga sekitar Rp20 ribu per kilogram. Padahal, pada periode tertentu, harga bisa melonjak hingga Rp80 ribu-Rp100 ribu per kilogram.

Harga tinggi biasanya terjadi ketika permintaan meningkat, antara lain menjelang Hari Raya Idulfitri, Jumat Kliwon, serta musim hajatan dan perayaan pengantin.

Sedangkan pada hari-hari biasa, harga yang diterima petani dari pengepul paling tinggi hanya sekitar Rp25 ribu per kilogram.

Melimpahnya hasil panen di tengah permintaan yang terbatas membuat posisi tawar petani semakin lemah. Produksi yang seharusnya menjadi keuntungan justru berubah menjadi persoalan karena harga jual tidak mampu mengikuti besarnya pasokan.

Situasi petani di dua wilayah Pantura tersebut menunjukkan tekanan yang berbeda akibat kondisi musim yang sama. Petani padi kehilangan hasil karena hama, sementara petani melati kehilangan nilai jual karena anjloknya harga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....