Bina 60 Pelajar Terlibat Tawuran, Polres Purworejo Kedepankan Pendekatan Humanis
- 27 Agt 2026 06:09 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Purworejo - Polres Purworejo merangkul puluhan pelajar dan orang tua dalam upaya mencegah terulangnya tawuran antarpelajar yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pembinaan humanis tersebut digelar di Gedung Auditorium Tri Brata Polres Purworejo, Rabu, 26 Agustus 2026.
Sekitar 60 pelajar dari Purworejo dan Kebumen mengikuti kegiatan tersebut. Mereka merupakan pelajar yang sebelumnya terlibat tawuran di wilayah Kecamatan Butuh, Kemiri, dan Bayan, serta hadir bersama orang tua masing-masing.
Kegiatan dipimpin Kapolres Purworejo AKBP Windy Syafutra dan dihadiri Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi, perwakilan Dinas Pendidikan Purworejo dan Kebumen, Dinas Sosial PPKB, DP3APMD, UPT PPA, serta BAPAS Magelang. Hadir pula guru Bimbingan dan Konseling (BK) dari delapan sekolah di Purworejo dan 14 sekolah di Kebumen.
Kapolres Purworejo AKBP Windy Syafutra menegaskan, kegiatan tersebut bukan untuk menghakimi atau mencari pihak yang paling bersalah. Sebaliknya, para pelajar diajak memahami dampak tawuran dan bersama-sama mencegah kejadian serupa terulang.
“Kegiatan ini bukan untuk menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, bukan juga untuk saling menyalahkan atau mencari siapa yang harus disudutkan. Yang paling penting, kita belajar dari kejadian yang sudah terjadi dan mencegah supaya tidak terulang lagi,” ujar Windy.
Menurut Windy, tawuran kini tidak dapat lagi dipandang sebatas kenakalan remaja. Peristiwa tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak serius, mulai dari luka fisik, kerusakan fasilitas, persoalan hukum, hingga ancaman korban jiwa.
“Orang tua menyekolahkan kalian supaya bisa meraih cita-cita, bukan untuk ikut tawuran. Berani menolak tawuran justru adalah bentuk keberanian yang sebenarnya,” katanya.
Selain menghindari tawuran, para pelajar juga diminta lebih bijak menggunakan media sosial. Mereka diingatkan agar tidak mudah terprovokasi oleh ajakan maupun informasi yang berpotensi memicu konflik antarkelompok.
Windy juga meminta siswa segera menyampaikan kepada guru, orang tua, atau kepolisian apabila mengetahui adanya rencana tawuran. Langkah tersebut dinilai penting untuk memungkinkan pencegahan dilakukan sejak dini.
Sementara itu, Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi menyebut kasus tawuran tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan perlunya pembenahan sistem pendidikan dan penguatan peran berbagai pihak dalam mendampingi perkembangan anak.
“Kejadian ini menjadi tanggung jawab kita semua. Ini merupakan indikator bahwa ini merupakan kegagalan sistem pendidikan kita, yang harus kita benahi bersama dan tentunya menjadi introspeksi kita semua,” ungkap Dion.
Ia menilai dampak terbesar tawuran tidak hanya kerugian material. Akan tetapi juga masa depan para pelajar yang dapat terganggu akibat terlibat konflik dan persoalan hukum.
Setelah pengarahan, pembinaan dilanjutkan secara intensif oleh Kasat Binmas Polres Purworejo AKP Damara Wibowo bersama BAPAS dan Dinas Sosial. Pendekatan psikologis digunakan untuk membantu pelajar menyalurkan energi melalui kegiatan yang lebih positif, seperti olahraga, seni, dan kegiatan ekstrakurikuler.
Polres Purworejo selanjutnya akan memperkuat koordinasi dengan sekolah, pemerintah daerah, orang tua, dan lembaga terkait sebagai bagian dari pencegahan tawuran. Melalui pembinaan dan pendekatan humanis, para pelajar diharapkan kembali fokus pada pendidikan serta mampu membangun pergaulan yang lebih sehat dan positif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....