HUT ke-81 Jateng, Pompa Tenaga Surya Bantu Petani Hemat Biaya Produksi

  • 20 Agt 2026 13:51 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Menapaki usia ke 81, Jawa Tengah telah berhasil menghadirkan harapan baru di tengah sawah tadah hujan Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Pompa Air Tenaga Surya (PATS) yang memanfaatkan energi matahari kini berhasil membantu petani menjaga pasokan air sekaligus menekan biaya produksi.

Di bawah terik matahari, panel surya menggerakkan pompa yang mengalirkan air dari Sungai Sragi Lama menuju lahan pertanian. Teknologi ini menjadi solusi bagi petani yang selama ini bergantung pada mesin diesel berbahan bakar solar.

Petani Desa Tengengwetan, Dedi Utomo, mengaku keberadaan PATS membuat biaya operasional pertanian lebih ringan. Saat siang hari, kebutuhan pompa dipenuhi tenaga surya, sementara malam hari tetap dibantu mesin diesel.

Menurut Dedi, keberadaan PATS juga memberikan kepastian air bagi petani dalam mengatur musim tanam. Kini petani dapat mempertahankan pola tanam tanpa khawatir kekurangan pasokan air saat musim kemarau.

Pemanfaatan energi surya membuat operasional pompa menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. "Dua kali tanam, dan juga tidak kekurangan air seperti yang dulu-dulu," ujarnya.

Perwakilan Kelompok Tani Kendayaan Desa Tengengwetan, Muhammad Chirom, mengatakan PATS dimanfaatkan untuk mengairi sekitar 20 hektare sawah tadah hujan. Air dipompa dari Sungai Sragi Lama melalui jaringan pipa menuju saluran tersier sebelum dialirkan ke lahan pertanian.

Sebelum ada PATS, kelompok tani harus menghabiskan sekitar 30 liter solar per hari untuk mengoperasikan pompa diesel. Setelah teknologi tersebut digunakan, kebutuhan solar turun menjadi sekitar 15 hingga 20 liter per hari, tergantung cuaca dan durasi penggunaan.

Penghematan tersebut dirasakan langsung oleh sekitar 30 petani anggota kelompok tani."Pengeluaran kami bisa berkurang sekitar Rp100.000 per hari," ujar Chirom.

Chirom menuturkan, sebelumnya petani kerap kesulitan memperoleh solar karena kuota harian yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan, "Setiap hari itu mendapatkan kuota solar 10 liter, sedangkan kami membutuhkan 30 liter solar," ucapnya.

Manfaat serupa dirasakan petani lainnya, Rasito, yang mengaku tidak lagi sepenuhnya bergantung pada solar untuk mengairi sawah. "Dulu mencari solar memang sulit, sekarang dengan adanya tenaga surya lebih membantu," ujarnya.

Dengan sistem yang berjalan saat ini, pompa tenaga surya bekerja pada siang hari dan diesel digunakan sebagai pendukung saat energi matahari berkurang. "Diesel yang pakai solar bisa istirahat, disambung bergantian dengan tenaga surya," ujarnya.

Meski demikian, Rasito berharap kapasitas PATS terus ditingkatkan agar mampu memenuhi kebutuhan pengairan secara maksimal. Menurutnya, sistem yang dapat beroperasi penuh siang dan malam akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani.

Pemanfaatan PATS di Tengengwetan merupakan bagian dari program Benteng Pangan Jawa Tengah yang saat ini diterapkan di tiga daerah, yakni Kabupaten Pekalongan, Brebes, dan Cilacap. Program tersebut menjadi langkah nyata dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus penggunaan energi bersih di sektor pertanian.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemanfaatan tenaga surya untuk pompa pertanian bertujuan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menekan biaya produksi petani. "Tiga titik pompa ini total mengairi sekitar 50 hektare lahan pertanian, untuk yang di Pekalongan ini bisa mengairi hampir 20 hektare lahan," kata Luthfi.

Menurut Luthfi, program tersebut akan terus dikembangkan sebagai model yang dapat diterapkan di kabupaten dan kota lain di Jawa Tengah. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga membuka peluang menjadikannya sebagai percontohan di tingkat nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....